DUMAI — Setiap perhelatan besar hampir selalu bermula dari sesuatu yang terlihat sangat biasa: percakapan. Orang-orang duduk di sebuah ruangan, kertas dibuka, nama-nama disebut, jadwal diperiksa, tempat dipertimbangkan dan gagasan diperdebatkan.
Belum ada panggung, belum ada lampu, belum ada musik dan belum terdengar tepuk tangan. Namun masa depan kadang memang lahir dalam kesunyian ruang rapat.
Begitulah semangat yang terlihat ketika gagasan Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN 2026 dibicarakan bersama Pemerintah Kota Dumai pada 4 Agustus 2026.
Tantri Subekti hadir bukan semata membawa proposal kegiatan. Ada pertanyaan yang lebih besar: mengapa kota yang berada begitu dekat dengan jalur internasional harus puas menjadi penonton ketika kebudayaan kawasan terus bergerak?
Dumai memiliki posisi geografis yang unik. Kota ini berada di pesisir, berhadapan dengan Selat Malaka, dekat dengan negeri-negeri tetangga dan sejak lama menjadi salah satu pintu pergerakan manusia serta barang. Namun kedekatan geografis tidak otomatis menghasilkan kedekatan kebudayaan yang aktif. Sebuah jembatan tetap harus dibangun.
Seni dan sastra dapat menjadi salah satu bahan terkuat untuk membangun jembatan itu.
“Dumai ini berada di pintu yang sangat strategis. Kita berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan dekat dengan negara-negara tetangga. Menurut saya, posisi ini jangan hanya dimanfaatkan untuk perdagangan dan industri. Seni dan budaya juga harus ikut menyeberang,” kata Tantri.
Dalam konsep yang dipaparkan, kegiatan tersebut dirancang mempertemukan sastrawan, seniman, akademisi, budayawan dan tokoh perfilman dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand serta Singapura.
Pemerintah Kota Dumai menyambut rencana tersebut. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Dumai Hj. Yusmanidar menilai kegiatan itu memiliki nilai strategis dalam memperkenalkan potensi daerah. Dukungan juga datang dari Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Dumai Agus Gunawan.
Pertemuan antara pemerintah dan komunitas seni seperti ini mempunyai arti penting. Seniman dapat melahirkan gagasan, tetapi gagasan besar membutuhkan ruang, akses, fasilitas, keterlibatan masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan terutama banyak tangan yang mau bekerja.
Kebudayaan hanya tumbuh jika ekosistemnya hidup.
Seorang penyair dapat menulis sendiri di kamar, tetapi gerakan sastra tidak lahir dari satu meja tulis. Seorang pelukis dapat bekerja sendirian di studio, tetapi ekosistem seni membutuhkan penonton, ruang pamer, jaringan, kritik, pendidikan dan dokumentasi.
Begitu pula sebuah kegiatan internasional. Ia tidak mungkin hidup hanya karena satu orang mempunyai gagasan. Ia membutuhkan banyak orang yang percaya.
Pantai Tantrayana di Teluk Makmur kemudian direncanakan menjadi lokasi kegiatan pada 11–13 September 2026. Sekitar 150 peserta ditargetkan terlibat dalam dialog sastra, pertunjukan seni, budaya, kuliner dan wisata pesisir.
Di atas kertas, jumlah itu tampak seperti angka. Namun setiap angka adalah satu manusia, satu pengalaman, satu cerita dan satu jaringan.
Seratus lima puluh orang yang bertemu selama beberapa hari dapat membawa pulang seratus lima puluh versi cerita tentang Dumai. Dan cerita mempunyai kekuatan yang sering diremehkan.
Promosi resmi dapat membeli ruang iklan, tetapi pengalaman yang berkesan akan diceritakan secara sukarela.
“Saya selalu berpikir, setiap tamu yang datang ke Dumai sebenarnya bisa menjadi pembawa cerita. Kalau mereka pulang dengan pengalaman yang baik, melihat seni kita, menikmati kuliner kita dan bertemu masyarakat kita, mereka akan menceritakan Dumai kepada orang lain. Itu promosi yang sangat kuat,” ujar Tantri.
Seseorang pulang ke negaranya dan berkata bahwa ia pernah datang ke Pantai Tantrayana. Ia berbicara tentang orang yang ditemuinya, makanan yang dicicipinya, puisi yang didengarnya dan pertunjukan yang dilihatnya. Dari situlah sebuah kota mulai memperoleh tempat dalam ingatan orang lain.
Bayangkan sebuah pantai yang biasanya berbicara dengan bahasa angin dan ombak. Kemudian selama beberapa hari suara itu bertemu dengan puisi, musik, diskusi, teater, tawa dan percakapan dalam berbagai logat.
Itulah wajah lain diplomasi.
Diplomasi tidak selalu berlangsung di gedung megah dan tidak selalu memerlukan meja panjang dengan bendera negara berjejer rapi. Kadang diplomasi berlangsung ketika seorang penyair membaca sajak dan seseorang dari negeri lain memahami perasaannya. Kadang ketika dua seniman berbeda bahasa menemukan kesamaan melalui karya. Kadang di meja makan, di panggung kecil atau di tepi pantai.
Karena itu, cita-cita menjadikan kegiatan ini sebagai agenda berkelanjutan layak dibaca lebih jauh daripada sekadar urusan pariwisata. Yang sedang dibangun adalah identitas kota.
Kperlu meniru kota lain. Justru kekuatan terbesar lahir ketika sebuah kota berani menjadi dirinya sendiri.
Identitas tidak dapat dibeli seperti membangun gedung. Ia tumbuh perlahan dari acara yang konsisten, dari orang yang terus bekerja, dari generasi yang merasa memiliki dan dari gagasan yang tidak dibiarkan mati setelah satu kali penyelenggaraan.
Semua tradisi besar pada suatu hari pernah menjadi kegiatan pertama. Semua festival besar pernah mempunyai panggung kecil. Semua gerakan kebudayaan pernah dimulai oleh beberapa orang yang dianggap terlalu banyak bermimpi.
Maka dari ruang rapat menuju pesisir, perjalanan gagasan itu dimulai.
Kelak sejarah akan memberi jawaban: apakah Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN hanya menjadi satu perhelatan yang pernah dilaksanakan, atau justru menjadi titik awal ketika Dumai mulai dikenal bukan hanya dari apa yang keluar dari pelabuhannya, tetapi juga dari apa yang lahir dari jiwa masyarakatnya?
Waktu akan menjawab.
Tetapi sebelum sejarah menuliskannya, seseorang memang harus berani memulainya.ota-kota besar di dunia diingat bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena cerita, festival, seni, suasana dan pengalaman yang hanya dapat ditemukan di sana. Dumai mempunyai kesempatan membangun pengalaman seperti itu dengan caranya sendiri.
Tidak
0 Comments