- Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

News

Latest Posts

DARI PANTAI KECIL KE RUANG INTERNASIONAL: TANTRI SUBEKTI MENOLAK SENI DUMAI TUMBUH DALAM KESUNYIAN

 

DUMAI — Ada karya yang lahir, dipentaskan, lalu hilang. Ada seniman yang bekerja bertahun-tahun tetapi hanya dikenal oleh lingkaran kecil di kotanya sendiri. Ada komunitas yang hidup, mati, kemudian lahir lagi karena tidak pernah mempunyai ruang yang cukup kuat untuk bertahan.

Bukan karena mereka tidak mempunyai karya.

Sering kali mereka hanya kekurangan panggung.

Dan panggung, dalam pengertian Tantri Subekti, tidak selalu berarti lantai tinggi dengan lampu sorot.

Panggung adalah kesempatan untuk terlihat.

Pada 12–13 September 2026, kesempatan itu mencoba diperluas melalui Seminar Internasional Budaya Melayu dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantrayana, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai.

Perhelatan tersebut mempertemukan pelaku seni dan budaya dari Indonesia serta sejumlah negara tetangga. Tema yang dibawa adalah “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Seniman, budayawan, sastrawan, akademisi dan komunitas kreatif dipertemukan bukan hanya untuk merayakan apa yang telah ada, tetapi untuk membicarakan bagaimana warisan dan kreativitas dapat terus hidup di tengah perubahan teknologi.

Dunia tidak akan berhenti agar kebudayaan mempunyai waktu menyesuaikan diri. Teknologi terus bergerak. Cara manusia menikmati musik berubah. Cara membaca berubah. Cara menonton berubah. Cara bertemu berubah. Bahkan cara manusia menyimpan ingatan ikut berubah.

Maka pilihan bagi kebudayaan bukan antara berubah atau tidak berubah. Perubahan tetap akan datang.

Pertanyaan sebenarnya adalah: apakah kita akan ikut menentukan arah perubahan itu, atau membiarkan diri terbawa?

“Saya tidak ingin seniman Dumai hanya berkarya lalu hilang karena tidak terdokumentasi dan tidak punya ruang. Karya itu harus dicatat, direkam, diperkenalkan dan diberi jalan untuk bertemu dengan penonton yang lebih luas. Kalau kita sendiri tidak menjaga jejaknya, siapa lagi?” kata Tantri.

Gagasan Tantri tidak berhenti di forum diskusi. Rangkaian kegiatan memadukan dialog kebudayaan, literasi, pertunjukan seni, aktivitas komunitas dan interaksi peserta lintas negara.

Sabtu pagi dimulai dengan Salat Subuh bersama, senam, pengenalan lingkungan, sarapan dan Rolling Thunder Vespa. Kemudian masuk ke Dialog Seni dan Budaya Sesi I mengenai keindahan seni dalam peradaban Melayu dan Islam.

Hadir Prof. Dr. H. Alaidin Koto, M.A.; Prof. Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D.; Dr. Bambang Kariyawan Ys, M.Pd.; dan H. Dheny Kurnia, dengan moderator Dr. Dian Oka, M.Sy.

Sesi kedua membawa peserta ke pembicaraan mengenai “Kreativitas Seni dan Budaya: Ekosistem Imajinasi.” Pelaku seni dari sejumlah negara terlibat dalam forum yang dimoderatori Jefry Al Malay.

Kemudian malam datang dan teori harus bertemu praktik.

Pantai Tantrayana berubah menjadi panggung. Kompang berbunyi. Tari Persembahan hadir. Tepak Sirih dilakukan. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Deklarasi International Strait Art Exhibition menjadi salah satu bagian penting malam tersebut.

Komunitas seni dilantik. Kanvas dukungan INSA ditandatangani. Musikalitas puisi mengambil ruang. Teatrikal hasil workshop ditampilkan. Jibam Ramlee dari Malaysia naik ke panggung. Hiburan lintas negara bergantian hingga akhirnya api unggun menjadi penutup malam.

Keesokan paginya, peserta kembali menjalani ibadah, senam, pengenalan lingkungan, temu ramah dan penyerahan sertifikat.

Rangkaian acara selesai.

Namun gagasan Tantri justru dapat dibaca dari apa yang diharapkannya terjadi setelah acara.

“Saya ingin panggung ini membuka jalan bagi generasi berikutnya. Jangan semua bergantung pada satu atau dua orang. Harus muncul seniman baru, komunitas baru dan anak-anak muda yang berani membawa karya mereka keluar dari Dumai. Kalau itu terjadi, berarti kita sudah mulai membangun ekosistem,” ujar Tantri.

Ada cara pandang terhadap tradisi yang tanpa sadar justru membahayakannya. Kita memperlakukannya seperti barang pecah belah: jangan disentuh, jangan diubah, jangan terlalu sering digunakan, simpan baik-baik supaya awet.

Persoalannya, kebudayaan bukan porselen.

Ia hidup karena digunakan.

Bahasa hidup karena diucapkan. Musik hidup karena dimainkan. Sastra hidup karena dibaca dan ditulis kembali. Tarian hidup karena ada tubuh yang mau mempelajarinya.

Jika semuanya disimpan hanya demi menjaga keaslian, suatu hari yang tersisa mungkin memang bentuk yang utuh, tetapi manusianya tidak lagi merasa mempunyai hubungan dengannya.

Warisan harus dijaga, tetapi pada saat yang sama dikembangkan sebagai kekuatan kreatif.

Teknologi digital dapat membantu. Ia memberi ruang agar sebuah karya dari Dumai ditemukan oleh orang yang tidak pernah menginjakkan kaki di kota ini. Seorang penyair lokal dapat membacakan puisinya dan didengar orang di negara lain. Dokumentasi tari dapat disaksikan mahasiswa di tempat lain. Seniman dapat membangun portofolio dan komunitas dapat menyimpan sejarahnya sendiri.

Dalam konteks itu, layar tidak harus menjadi musuh panggung.

Ia dapat menjadi panggung kedua.

Bagi Dumai, pertemuan internasional tersebut juga mempunyai arti dalam upaya membentuk citra kota. Selama ini Dumai dikenal melalui kekuatan ekonomi dan posisinya sebagai kawasan industri serta pelabuhan.

Identitas itu tidak perlu dihapus.

Tetapi sebuah kota akan lebih kuat apabila mempunyai lebih dari satu cerita.

Kota industri dapat mempunyai festival.

Kota pelabuhan dapat mempunyai penyair.

Kawasan ekonomi dapat mempunyai seniman.

Cerobong dapat berdiri di satu sisi, sementara panggung pertunjukan hidup di sisi lain.

Keduanya tidak harus saling meniadakan.

Kebudayaan bekerja pada wilayah yang tidak dapat dihitung hanya dengan angka ekonomi: kebutuhan manusia untuk mengenal diri, merayakan, menciptakan, mengingat dan mewariskan sesuatu.

Karena itu kehadiran peserta dari sejumlah negara tetangga menjadi penting. Mereka tidak hanya datang untuk melihat. Mereka menjadi saksi bahwa Dumai mempunyai komunitas yang ingin berbicara kepada kawasan.

Dan sebaliknya, seniman Dumai memperoleh kesempatan melihat bahwa dunia mereka tidak harus berhenti pada batas administratif kota.

Pertemuan lintas negara tersebut memperlihatkan satu pelajaran sederhana:

kebudayaan dapat menjadi jembatan antarmasyarakat.

Bukan jembatan beton. Tidak dapat dilalui kendaraan dan tidak terlihat dari udara.

Tetapi ia menghubungkan sesuatu yang jauh lebih penting:

manusia.

Tantri ingin ruang seperti itu terus terbuka. Tidak hanya untuk dirinya. Sebuah ekosistem seni tidak boleh bergantung kepada satu orang.

Generasi berikutnya harus masuk.

Seniman baru harus tampil.

Komunitas baru harus memperoleh tempat.

Teknologi baru harus dipelajari.

Dan hubungan yang sudah dibuka harus dirawat.

Sebab membuat acara dua atau tiga hari mungkin melelahkan.

Tetapi membangun gerakan membutuhkan tahun.

Dari Pantai Tantrayana, semangat itu dilemparkan ke ruang yang lebih luas.

Tradisi dijaga.

Kreativitas didorong.

Teknologi digunakan.

Jejaring dibuka.

Dan Dumai mulai berani menawarkan wajah lain kepada dunia.

Yang paling berbahaya bukanlah panggung yang kecil.

Yang paling berbahaya adalah ketika sebuah kota mempunyai banyak seniman—

tetapi membiarkan mereka tumbuh dalam kesunyian.

KAIN, TAS DAN MIMPI MENYEBERANG LAUT: KETIKA PANGGUNG SENI MEMBUKA HARAPAN UMKM KECIL DUMAI

 DUMAI — Di tengah pembicaraan besar mengenai seni, kebudayaan dan hubungan antarnegara, ada cerita yang ukurannya jauh lebih kecil. Ia tidak berdiri di podium utama, tidak membawa gelar panjang dan tidak datang bersama delegasi resmi.

Cerita itu berada di tangan seorang pelaku UMKM.

Namanya Noylula Collection.

Usaha lokal Kota Dumai itu ikut meramaikan perhelatan seni dan budaya lintas negara di kawasan Pantai Tantrayana, Teluk Makmur, Dumai, September 2026. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, seniman, budayawan serta tamu dari dalam dan luar negeri berdatangan ke kawasan pesisir.

Di antara panggung, seniman dan tamu luar negeri, muncul pertanyaan yang sangat membumi: apa manfaat sebuah perhelatan internasional bagi orang kecil yang hidup dan berusaha di kota ini?

Salah satu jawabannya terlihat melalui kehadiran Noylula Collection.

Usaha milik Nur Hasanah tersebut bergerak dalam produksi berbagai barang kebutuhan rumah tangga dan fesyen, antara lain pakaian, seprai, sarung guling, sarung bantal, tas sandang serta aksesori untuk pesta pernikahan. Produk dibuat menyesuaikan ukuran dan permintaan pembeli.

Sekilas barang-barang itu terlihat sederhana. Tidak ada mesin industri raksasa, cerobong atau kontainer besar. Tetapi ekonomi sebuah kota tidak hanya dibangun dari perusahaan besar.

Ada ribuan kehidupan yang bertumpu pada usaha kecil: mesin jahit, meja kerja, kamar yang berubah menjadi ruang produksi, pesanan yang masuk melalui telepon dan keluarga yang menunggu hasil penjualan.

“Saya selalu bilang, kalau kita mengundang tamu dari luar negeri jangan hanya tunjukkan panggung kita. Tunjukkan juga produk masyarakat kita. Ada penjahit, pengrajin, kuliner, fesyen dan banyak karya UMKM Dumai yang layak dilihat. Acara internasional harus ikut membuka pintu untuk mereka,” kata Tantri.

Nur Hasanah menyampaikan harapan agar kegiatan lintas negara dapat membuka peluang bagi produk UMKM Kota Dumai untuk diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.

Harapan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi usaha kecil, pasar baru dapat berarti banyak hal: pesanan bertambah, produksi meningkat, orang lain dapat dipekerjakan, pendapatan keluarga bertambah dan usaha memperoleh keberanian untuk tumbuh.

Di sinilah seni dan ekonomi menemukan titik temu.

Selama ini masyarakat sering memandang acara kebudayaan hanya sebagai pengeluaran. Panggung membutuhkan biaya, dekorasi membutuhkan biaya, tamu membutuhkan pelayanan dan pertunjukan membutuhkan fasilitas.

Namun cara pandang itu terlalu sempit apabila kegiatan mampu menciptakan perputaran ekonomi. Tamu yang datang perlu makan, transportasi, tempat menginap, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan lain. Semakin lama mereka tinggal, semakin besar kemungkinan uang berputar di tingkat lokal.

Karena itu, seni dan budaya dapat menjadi bagian dari ekonomi kreatif jika dirancang dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar menempelkan stan UMKM di sudut acara, tetapi benar-benar mempertemukan produk dengan pasar.

Usaha kecil sering mempunyai produk tetapi tidak mempunyai jaringan. Mempunyai keterampilan tetapi lemah dalam kemasan. Mempunyai semangat tetapi kesulitan modal. Mempunyai pelanggan lokal tetapi tidak tahu bagaimana menembus pasar yang lebih jauh.

Di sinilah pemerintah dan ekosistem ekonomi kreatif dibutuhkan: pelatihan, legalitas, desain, kemasan, fotografi produk, pemasaran digital, standar mutu, pameran, jaringan perdagangan hingga pendampingan ekspor.

Tidak semua pelaku UMKM membutuhkan bantuan uang.

Kadang yang mereka butuhkan adalah pintu.

“Menurut saya, masalah banyak UMKM bukan karena produknya tidak bagus. Kadang mereka hanya belum punya pintu untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Kalau kegiatan seni bisa mempertemukan mereka dengan pembeli, jaringan dan tamu dari luar, berarti panggung itu memberi manfaat nyata,” ujar Tantri.

Bayangkan jika seorang tamu dari luar membawa pulang satu produk. Ia memotretnya, memperlihatkannya kepada keluarga, lalu seseorang bertanya siapa yang membuat. Nomor kontak diberikan. Pesanan pertama masuk.

Tidak ada yang spektakuler.

Tetapi banyak usaha besar memang dimulai dari transaksi yang sangat kecil.

Ekonomi tidak selalu tumbuh melalui pidato besar. Kadang ia tumbuh dari seseorang yang membeli satu tas, satu kain atau satu produk, lalu kembali membeli.

Bagi Tantri, pertemuan antara seni dan UMKM mempunyai logikanya sendiri. Budaya tidak hanya hidup dalam tarian. Ia hadir dalam pakaian, kerajinan, kuliner, motif, desain, cara manusia menghias rumah dan barang-barang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu ekonomi kreatif tidak dapat dipisahkan secara kaku dari kebudayaan. Seniman membutuhkan ekonomi agar dapat terus berkarya. UMKM membutuhkan kreativitas agar produknya mempunyai nilai tambah. Pariwisata membutuhkan keduanya agar wisatawan mempunyai sesuatu untuk dilihat, dirasakan dan dibawa pulang.

Ketika tiga unsur itu dipertemukan—seni, pariwisata dan UMKM—sebuah kota mulai mempunyai ekosistem yang lebih lengkap.

Kita tidak perlu berpura-pura bahwa satu kegiatan langsung membuat UMKM menembus pasar internasional. Itu akan menjadi klaim berlebihan.

Tetapi pintu yang terbuka tetap lebih baik daripada tembok yang tidak pernah diketuk.

Noylula Collection datang membawa produknya.

Membawa harapan.

Dan mungkin juga membawa satu pesan sederhana kepada setiap penyelenggara kegiatan besar di kota ini:

ketika tamu internasional datang, jangan hanya tunjukkan panggung kita.

Tunjukkan juga apa yang dibuat tangan masyarakat kita.

TIGA HARI DI TEPI SELAT: PUISI, SENI, API UNGGUN DAN JANJI YANG TAK BOLEH PADAM SETELAH PANGGUNG DIBONGKAR

 

DUMAI — Tiga hari bukan waktu yang panjang. 11, 12 dan 13 September 2026. Hanya tiga tanggal di kalender. Namun sebuah pertemuan dapat mempunyai umur jauh lebih panjang daripada waktu pelaksanaannya apabila orang-orang yang hadir pulang membawa hubungan baru.

Di Pantai Tantrayana, Kecamatan Medang Kampai, selama tiga hari itu berlangsung rangkaian seni dan budaya yang mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Perhelatan tersebut digagas Tantri Subekti, S.Pd. bersama tim dengan tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Rangkaian dimulai Jumat, 11 September, ketika peserta berdatangan sejak siang. Tidak langsung ada kemegahan. Orang datang, berkenalan, menata tempat, mencari posisi, menyapa teman lama dan bertemu wajah baru.

Seperti banyak peristiwa kebudayaan, sesuatu yang kemudian terlihat besar selalu bermula dari pekerjaan kecil.

Pada sore harinya digelar Workshop Seni Gerak bersama Budi Sumarno, Bedjo Sulaktono dan Umar Tadjuddin. Gerak, suara dan ekspresi menjadi medium pembelajaran. Malam pertama mulai diisi puisi, musik dan tarian.

Belum menjadi puncak, tetapi benih suasana telah ditanam.

Sebab kebudayaan tidak lahir pada malam puncak. Ia lahir dalam proses, dalam latihan ketika penonton belum datang, dalam seniman yang mengulang gerakan, dalam panitia yang berjalan mondar-mandir dan dalam peserta yang masih mencari keberanian untuk tampil.

“Orang biasanya hanya melihat malam pertunjukan, padahal sebuah karya lahir jauh sebelum lampu panggung dinyalakan. Ada latihan, ada kesalahan, ada orang yang bekerja di belakang. Saya justru menghargai proses itu, karena dari sanalah kebersamaan dibangun,” kata Tantri.

Sabtu, 12 September, hari dimulai dengan ibadah, gerak tubuh dan sarapan bersama. Sesudahnya kegiatan memasuki ruang pemikiran.

Dialog pertama membicarakan hubungan keindahan seni dengan peradaban dan nilai-nilai Islam. Hadir Prof. Dr. H. Alaidin Koto, Prof. Dr. Husnu Abadi, Dr. Bambang Kariyawan Ys dan H. Dheny Kurnia.

Seni membutuhkan tubuh, tetapi juga membutuhkan pikiran. Budaya membutuhkan tradisi, tetapi juga membutuhkan kritik. Warisan membutuhkan penghormatan, tetapi bila tidak pernah dibicarakan kembali, penghormatan dapat berubah menjadi pembekuan.

Sesi berikutnya membawa pembicaraan menyeberangi laut melalui tema ekosistem imajinasi. Seniman dari Dumai, daerah lain serta negara tetangga berbagi pengalaman, tantangan dan harapan.

Sebuah gagasan muncul dengan sendirinya: kreativitas tidak mengenal garis perbatasan.

Seorang seniman di Dumai dapat mempunyai kegelisahan yang sama dengan seniman di Malaysia. Seorang penulis di Singapura dapat memahami persoalan yang dihadapi pekerja budaya di Indonesia. Mereka hidup di bawah administrasi negara berbeda, tetapi karya sering mempertemukan pertanyaan yang sama.

Malam Sabtu menjadi titik puncak. Hadir unsur Pemerintah Kota Dumai, lembaga adat, Pemerintah Provinsi Riau, legislatif, instansi setempat serta utusan negara sahabat.

Ketika malam turun, bunyi kompang mengambil alih udara. Tepak Sirih dan berbagai pertunjukan budaya hadir sebagai simbol penghormatan. Lagu kebangsaan dinyanyikan, kemudian dilakukan penandatanganan kanvas sebagai dukungan terhadap Strait Art Exhibition, sebuah kerja sama yang direncanakan berlanjut pada Desember 2026.

Di sela perayaan seni, terdapat pula penyerahan bantuan sosial kepada Aku Cinta Dumai (ACD).

“Kalau kita sudah membuka hubungan dengan seniman dari negara lain, jangan berhenti setelah mereka pulang. Saya ingin ada pertemuan berikutnya, ada pameran berikutnya, ada karya bersama. Api unggun boleh padam malam ini, tetapi hubungan yang sudah kita nyalakan jangan ikut padam,” ujar Tantri.

Malam berlanjut dengan kolaborasi seniman lintas daerah dan negara sebelum api unggun dinyalakan.

Simbol memang tidak akan mengubah dunia sendirian. Tetapi manusia membutuhkan simbol untuk mengingat. Api mengingatkan tentang kehangatan. Lingkaran manusia di sekitarnya mengingatkan tentang kebersamaan. Dan malam yang gelap membuat cahaya kecil terlihat jauh lebih berarti.

Minggu, 13 September, acara memasuki bagian akhir. Sertifikat diserahkan, salam perpisahan diucapkan, dan orang-orang mulai bersiap meninggalkan lokasi.

Secara administratif, kegiatan selesai. Namun tantangan sesungguhnya justru dimulai.

Sebab tantangan terbesar sebuah festival bukan membuatnya ramai. Yang jauh lebih sulit adalah membuat orang ingin kembali.

Jika peserta dari negara lain datang sekali, berfoto lalu hubungan terputus, pertemuan belum mencapai seluruh potensinya. Tetapi apabila setelah pulang mereka terus berkomunikasi, merancang kegiatan berikutnya, bertukar karya atau saling mengundang, maka tiga hari tersebut berubah menjadi fondasi.

Pesisir Dumai secara geografis memang berada di tepi. Namun “tepi” tidak harus berarti “pinggir”. Dalam sejarah manusia, pesisir justru sering menjadi tempat pertama perubahan datang. Kapal berlabuh di sana. Barang baru tiba. Bahasa bertemu. Orang asing menjadi kenalan.

Pantai Tantrayana selama tiga hari itu memilih membuka diri kepada puisi, seni, tamu, perbedaan dan kemungkinan.

Ketika semuanya selesai, pasir kembali sepi. Kursi dipindahkan. Panggung dibongkar. Orang-orang pulang.

Namun satu hal tidak boleh ikut dibongkar:

janji untuk bertemu kembali.

KETIKA PANGGUNG TAK CUKUP HANYA MENGHIBUR: TANTRI SUBEKTI MENYULUT JEJARING SENI DARI TEPI LAUT


DUMAI — Hiburan selesai ketika lagu terakhir berhenti. Kebudayaan seharusnya tidak.

Inilah pembeda antara sebuah panggung yang hanya ramai dan panggung yang meninggalkan jejak. Pada 12–13 September 2026, Pantai Tantrayana menjadi saksi pertemuan seni dan budaya yang melibatkan jejaring dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam dalam rangkaian Seminar Internasional Budaya Melayu dan Literasi Riau 2026.

Kegiatan yang digagas seniman Tantri Subekti itu membawa tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.” Sekilas orang mungkin mengira ini hanya seminar: beberapa pembicara datang, orang duduk, mikrofon berpindah tangan, lalu selesai.

Tetapi Pantai Tantrayana memilih bentuk lain. Seminar dibawa keluar dari kebiasaan ruang tertutup. Ia bertemu pantai, komunitas, seni pertunjukan, Vespa, api unggun dan suara orang-orang dari negara yang berbeda.

Kegiatan dimulai sejak pagi dengan Salat Subuh, senam, pengenalan lingkungan dan sarapan bersama. Komunitas Rolling Thunder Vespa ikut memberi warna sebelum pembicaraan memasuki tema besar mengenai seni dan peradaban.

Dialog Seni dan Budaya Sesi I menghadirkan Prof. Dr. H. Alaidin Koto, Prof. Dr. Husnu Abadi, Dr. Bambang Kariyawan Ys dan H. Dheny Kurnia, dengan Dr. Dian Oka sebagai moderator. Tema yang dibahas mempertemukan seni, kebudayaan, Islam, iman dan peradaban.

Tidak semua pertanyaan kebudayaan perlu memperoleh jawaban pada hari yang sama. Kadang fungsi sebuah forum justru membuka pertanyaan yang lebih baik: apakah seni hanya mengejar keindahan, apakah sebuah karya mempunyai tanggung jawab sosial, bagaimana tradisi bertahan ketika masyarakat berubah, dan bagaimana warisan dapat dijaga tanpa membekukannya.

“Bagi saya, seminar bukan tempat kita merasa paling tahu. Justru kita datang untuk saling mendengar. Seniman harus mau mendengar akademisi, pemerintah harus mendengar komunitas, dan kita semua harus mendengar generasi muda. Dari situlah ekosistem bisa tumbuh,” kata Tantri.

Dialog berikutnya bergerak pada tema “Kreativitas Seni dan Budaya: Ekosistem Imajinasi.” Pelaku seni dari Indonesia, Malaysia dan Singapura berbagi ruang.

Istilah ekosistem menjadi sangat penting. Kita sering memuji seniman setelah mereka berhasil, tetapi jarang membicarakan tanah tempat mereka tumbuh.

Apakah tersedia panggung? Apakah karya didokumentasikan? Apakah anak-anak mendapat ruang belajar? Apakah pemerintah menyediakan kesempatan? Apakah masyarakat mau menonton? Apakah media mau menulis? Apakah dunia usaha bersedia mendukung?

Seniman tidak hidup di ruang hampa. Bakat dapat lahir di mana saja, tetapi bakat membutuhkan lingkungan agar tidak mati sebelum sempat berkembang.

Menjelang malam, Pantai Tantrayana berubah. Arakan kompang mengambil tempat. Tari Persembahan ditampilkan. Tepak Sirih hadir sebagai bentuk penghormatan. Lagu Indonesia Raya berkumandang sebelum dilakukan Deklarasi International Strait Art Exhibition dan penandatanganan kanvas dukungan terhadap INSA.

Sesudah itu ruang pertunjukan semakin hidup melalui musikalitas puisi, teatrikal hasil workshop, penampilan seniman Malaysia Jibam Ramlee, hiburan lintas negara, lomba Vespa dan door prize. Api unggun menjadi penutup malam hingga dini hari.

“Panggung ini harus menjadi tempat orang saling menemukan. Kalau setelah acara seorang seniman Dumai punya teman baru di Malaysia atau Singapura, lalu mereka bertukar karya dan suatu hari membuat pertunjukan bersama, bagi saya itulah hasil yang jauh lebih berharga daripada sekadar jumlah penonton,” ujar Tantri.

Esoknya peserta kembali berkumpul untuk ibadah, senam, pengenalan lingkungan, temu ramah dan penyerahan sertifikat. Kemudian manusia melakukan apa yang selalu dilakukan setelah sebuah pertemuan: pulang.

Tetapi pulang tidak selalu berarti selesai.

Seseorang mungkin kembali ke Malaysia membawa nomor kontak seorang seniman Dumai. Peserta dari Dumai kini mengenal jaringan dari Singapura. Seorang anak muda mungkin pertama kali menyadari bahwa menjadi seniman tidak harus berarti bekerja sendirian.

Hasil-hasil kecil seperti itu sulit dimasukkan ke dalam tabel laporan. Tidak mempunyai angka dan tidak mudah dihitung. Tetapi justru sering menjadi benih bagi sesuatu yang lebih besar.

Perhelatan ini juga menjadi kesempatan bagi Dumai memperkenalkan diri melalui sisi yang jarang mendapat panggung utama. Kota ini tidak kekurangan industri, aktivitas ekonomi dan kapal yang datang serta pergi. Yang perlu diperkuat adalah ruang bagi karya manusia yang hidup di dalamnya.

Sebuah kota yang besar secara ekonomi tetapi miskin ruang kebudayaan akan terasa seperti tubuh yang sehat namun kehilangan sebagian jiwanya.

Manusia membutuhkan pekerjaan, tetapi juga membutuhkan cerita, musik, ruang untuk merayakan identitas dan alasan untuk merasa menjadi bagian dari sebuah tempat.

Karena itulah jejaring menjadi salah satu hasil terpenting dari keseluruhan pertemuan.

Panggung akan dibongkar. Tenda akan dilipat. Spanduk akan turun.

Tetapi jejaring tidak harus ikut dibongkar.

Ia dapat bergerak dari telepon ke telepon, dari kota ke kota, dari pantai ke pantai, dan dari satu karya menuju karya berikutnya.

Ketika sebuah panggung mampu membuat manusia saling menemukan, ia tidak lagi hanya menjadi tempat hiburan.

Ia menjadi jalan.

KOTA INDUSTRI ITU MULAI BERBICARA DENGAN PUISI: DUMAI MENJADI RUANG PERJUMPAAN ANTARNEGARA

 

DUMAI — Sebuah kota sering menjadi tawanan dari julukan yang terlalu lama melekat padanya. Dumai adalah kota industri. Dumai adalah kota pelabuhan. Dumai adalah kota minyak. Semua itu benar, tetapi sebuah kebenaran tidak harus menjadi satu-satunya cerita.

Pada 12–13 September 2026, Pantai Tantrayana di Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, menjadi ruang bagi cerita lain. Di sana berlangsung Seminar Internasional Budaya Melayu dan Literasi Riau 2026 yang digagas seniman Tantri Subekti dengan tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Pertemuan itu diikuti kalangan seniman, budayawan, sastrawan, akademisi dan komunitas kreatif, serta melibatkan jejaring dari sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Yang diperbincangkan bukan hanya bentuk-bentuk seni. Forum juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: peran seni dalam peradaban Melayu dan Islam serta bagaimana kreativitas dapat membangun sebuah ekosistem imajinasi.

Narasumber yang hadir antara lain Prof. Dr. H. Alaidin Koto, M.A.; Prof. Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D.; Dr. Bambang Kariyawan Ys, M.Pd.; dan H. Dheny Kurnia. Sementara seniman Malaysia Jibam Ramlee menjadi salah satu penampil dalam rangkaian pertunjukan.

“Dumai tidak harus memilih antara menjadi kota industri atau kota budaya. Kita bisa menjadi keduanya. Industri tetap berjalan, pelabuhan tetap hidup, tetapi di saat yang sama kita juga memberi ruang kepada seniman, penyair, teater dan kreativitas anak-anak muda,” kata Tantri.

Pertemuan itu tidak dibangun seperti seminar konvensional yang membuat manusia duduk berjam-jam menghadap podium. Panggung berpindah-pindah bentuk. Ada percakapan, gerak, musik, puisi, pertunjukan teatrikal, arakan kompang, Tari Persembahan, Tepak Sirih, hiburan lintas negara dan kehadiran komunitas Vespa.

Batas antara pembicara dan penonton perlahan dikurangi. Peserta tidak hanya diberi informasi tentang kebudayaan, tetapi dibawa masuk ke dalam suasananya.

Sebab kebudayaan memang tidak seluruhnya dapat dijelaskan. Bunyi kompang akan kehilangan sesuatu bila hanya diterangkan melalui teks. Sebuah tarian tidak mungkin sepenuhnya diterjemahkan dengan paragraf. Puisi pun mempunyai wilayah yang baru muncul ketika kata bertemu suara.

Di tengah kehidupan digital yang membuat hampir semua hal dapat disaksikan dari layar, manusia masih memerlukan pengalaman berada di satu tempat: mendengar suara secara langsung, melihat tubuh bergerak, merasakan angin, menatap wajah orang yang berbicara, bertepuk tangan bersama dan mungkin menemukan seorang teman baru yang beberapa jam sebelumnya masih merupakan orang asing.

Bagi Tantri, kebudayaan tidak hanya perlu dijaga, tetapi juga dikembangkan. Perbedaan antara menjaga dan mengembangkan sangat penting. Menjaga berarti memastikan sesuatu tidak hilang. Mengembangkan berarti memberinya kesempatan menemukan kehidupan baru.

Bila tradisi hanya dipertahankan dalam bentuk yang sama, dikeluarkan beberapa kali setahun lalu kembali disimpan, bentuknya mungkin bertahan. Tetapi hubungannya dengan masyarakat perlahan dapat menghilang.

“Saya tidak ingin budaya kita hanya keluar ketika ada seremoni. Budaya harus dipakai, dimainkan, ditulis, direkam dan diciptakan kembali. Kalau generasi muda tidak diberi ruang untuk menyentuhnya, suatu hari yang tersisa mungkin hanya bentuk, tetapi rasa memilikinya sudah hilang,” ujar Tantri.

Inilah tantangan zaman digital. Anak muda hidup di antara jutaan pilihan. Dalam satu hari mereka dapat mendengar musik dari negara lain, menonton film dari benua berbeda, mengikuti kreator internasional dan berbicara dengan orang yang belum pernah mereka jumpai.

Kebudayaan lokal kini hidup di dalam pasar perhatian global. Karena itu, teknologi tidak dapat semata-mata dimusuhi. Ia harus dipahami.

Kreativitas dan teknologi digital dapat menjadi cara memperkenalkan seni serta budaya ke ruang yang lebih luas. Bukan menggantikan panggung nyata, melainkan memperpanjang usia panggung tersebut. Sebuah pertunjukan mungkin selesai dalam sepuluh menit, tetapi dokumentasi yang baik dapat hidup bertahun-tahun. Sebuah dialog berlangsung beberapa jam, tetapi gagasan yang direkam dapat didengar kembali.

Pertemuan lintas negara tersebut juga memperlihatkan bahwa budaya dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.

Jembatan tidak menghilangkan dua tepi. Ia justru menghubungkannya.

Indonesia tetap Indonesia. Malaysia tetap Malaysia. Singapura dan Brunei memiliki perjalanan masing-masing. Namun sejarah kawasan memberi masyarakatnya banyak pintu untuk saling memahami: bahasa, makanan, musik, adat, agama, cerita rakyat dan laut yang sama.

Ketika jalur politik kadang terasa kaku, seni mempunyai cara yang lebih lunak untuk mempertemukan manusia. Seseorang tidak perlu memahami seluruh sejarah negeri lain untuk menikmati musiknya. Tidak perlu membaca perjanjian diplomatik untuk menghargai puisinya.

Seni bekerja di wilayah yang sering jauh lebih dalam daripada argumen: perasaan.

Pantai Tantrayana menjadi ruang simbolik bagi perjumpaan tersebut. Laut berada di depan, negara-negara tetangga berada di seberangnya, dan di pantai itu manusia berkumpul untuk membuktikan bahwa jarak geografis tidak harus menjadi jarak kebudayaan.

Sebuah kota tidak menjadi internasional hanya karena memasang kata internasional pada spanduk.

Ia menjadi internasional ketika manusia dari tempat berbeda benar-benar datang, berbicara, mendengar, berkarya dan membawa pulang cerita.

Pada September itu, Dumai mulai mencoba melakukannya.

Kota industri itu perlahan belajar berbicara dengan bahasa lain.

Bukan hanya bahasa mesin dan suara kapal.

Tetapi bahasa kompang.

Bahasa teater.

Bahasa puisi.

Bahasa persahabatan.

PESISIR YANG TAK LAGI MENUNGGU: TANTRI SUBEKTI MEMBUKA JALAN DUMAI MENUJU PANGGUNG ANTARNEGARA

 

DUMAI — Mimpi sering dianggap terlalu besar ketika pertama kali diucapkan. Orang akan bertanya siapa yang akan datang, dari mana biayanya, siapa yang mendukung, apakah kota seperti Dumai mampu melakukannya, dan apakah sebuah pantai di kawasan pesisir layak menjadi ruang pertemuan internasional.

Pertanyaan semacam itu biasa. Manusia memang lebih mudah mempercayai sesuatu setelah ia terjadi daripada ketika semuanya masih berupa gagasan.

Namun pada 12–13 September 2026, sebagian gagasan tersebut memperoleh bentuk di Pantai Tantrayana, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, melalui Seminar Internasional Budaya Melayu dan Literasi Riau 2026 bertema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Pertemuan itu membuka ruang bagi peserta dan jejaring seni dari Indonesia serta sejumlah negara tetangga. Di balik gagasan tersebut berdiri seniman kelahiran Dumai, Tantri Subekti, S.Pd., yang menempatkan kegiatan bukan semata sebagai perhelatan seni, melainkan upaya mempertemukan seniman, pemerintah, akademisi, komunitas dan masyarakat.

“Saya ingin seni dan budaya tidak berhenti sebagai hiburan. Kalau dikelola serius, ia bisa menjadi jalan untuk memperkenalkan Dumai, menggerakkan pariwisata, membuka jaringan dan memberi ruang ekonomi bagi masyarakat. Kita harus berani melihat seni sebagai kekuatan kota,” kata Tantri.

Gagasan itu mendapat sambutan dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau H. Tekad P. Setia Dewata, ST., MT., yang melihat keterlibatan negara-negara serumpun sebagai peluang membawa kegiatan seni budaya Dumai ke ruang internasional melalui wisata seni dan budaya.

Pemerintah Kota Dumai turut hadir melalui Handayani, S.H., yang mewakili Wali Kota. Kehadiran pemerintah menjadi penting karena sebuah gerakan kebudayaan tidak dapat selamanya dibebankan kepada seniman.

Seniman dapat menyalakan api, tetapi agar api itu terus hidup dibutuhkan banyak tangan: pemerintah, masyarakat, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media dan generasi muda.

Rangkaian kegiatan dibangun dalam suasana yang tidak sepenuhnya formal. Pagi dimulai dengan Salat Subuh bersama, senam, pengenalan lingkungan dan sarapan. Kehadiran komunitas Rolling Thunder Vespa menambah warna sebelum peserta memasuki ruang dialog yang lebih dalam.

Dialog Seni dan Budaya Sesi I mengangkat tema “Keindahan Seni dalam Peradaban Melayu dan Peradaban Islam: Harmoni Iman, Budaya dan Peradaban.” Forum menghadirkan Prof. Dr. H. Alaidin Koto, M.A.; Prof. Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D.; Dr. Bambang Kariyawan Ys, M.Pd.; serta H. Dheny Kurnia, dengan Dr. Dian Oka, M.Sy. sebagai moderator.

Pembicaraan kemudian bergerak melintasi batas negara melalui sesi “Kreativitas Seni dan Budaya: Ekosistem Imajinasi.” Pelaku seni dari Indonesia, Malaysia dan Singapura berbagi pengalaman serta gagasan dalam forum yang dipandu Jefry Al Malay.

Kata imajinasi menjadi penting. Sebelum sebuah festival internasional lahir, seseorang harus lebih dahulu membayangkan kemungkinan orang dari beberapa negeri berkumpul di satu pantai di Dumai. Sebelum wisata budaya berkembang, seseorang harus berani percaya bahwa seni dapat membuat orang datang.

Saat malam turun, Pantai Tantrayana berubah wajah. Arakan kompang membuka ruang. Tari Persembahan bergerak. Tepak Sirih menjadi simbol penghormatan. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Kemudian berlangsung deklarasi International Strait Art Exhibition, pelantikan komunitas seni, serta penandatanganan kanvas dukungan terhadap INSA.

Musikalitas puisi hadir. Pertunjukan teatrikal hasil workshop mengambil tempat. Seniman Malaysia Jibam Ramlee tampil. Hiburan lintas negara, door prize dan lomba Vespa menambah warna. Rangkaian itu juga memuat aksi sosial melalui penyerahan bantuan kepada organisasi Aku Cinta Dumai (ACD).

“Saya selalu percaya seni harus kembali kepada manusia. Kita boleh membuat panggung besar, mengundang tamu dari luar negeri dan berbicara tentang kebudayaan, tetapi jangan sampai lupa bahwa seni lahir dari masyarakat. Karena itu, kepedulian sosial juga harus menjadi bagian dari semangat yang kita bangun,” ujar Tantri.

Malam akhirnya bergerak menuju api unggun. Orang-orang berkumpul, sementara langit tetap gelap dan laut terus bergerak. Api unggun tentu akan padam, seperti semua panggung pada akhirnya akan gelap.

Tetapi persoalan kebudayaan bukan bagaimana mempertahankan nyala satu malam. Persoalannya adalah apakah setelah api mati, orang yang duduk mengelilinginya masih membawa pulang sesuatu: pertemanan, gagasan, rencana baru atau keberanian menciptakan sesuatu di tempatnya sendiri.

Dumai membutuhkan kesinambungan semacam itu. Kota ini sudah lama dikenal melalui industri dan pelabuhan. Kini muncul upaya menambahkan cerita lain: bahwa dari pesisir yang sama, seni juga dapat berlayar.

Kapal bukan satu-satunya hal yang dapat menyeberangi batas negara.

Gagasan bisa.

Puisi bisa.

Musik bisa.

Persahabatan bisa.

Dan sebuah kota yang sebelumnya hanya menunggu orang datang dapat berubah menjadi kota yang membuat orang ingin datang.

Pantai Tantrayana mungkin hanya sebuah titik kecil di garis panjang Selat Malaka. Namun sejarah kebudayaan tidak selalu dimulai dari tempat besar.

Kadang ia dimulai dari tempat sederhana yang mempunyai satu keberanian:

tidak mau terus menjadi penonton.

KETIKA SENI TAK LAGI CUKUP DIPAJANG: TANTRI SUBEKTI MEMBAWA GAGASAN KE MEJA BISNIS ANTARNEGARA

 

DUMAI — Seni akan kehilangan sebagian kekuatannya bila hanya hidup di dinding pameran. Produk lokal pun dapat kehilangan masa depannya bila terus berputar dari satu bazar ke bazar berikutnya tanpa pernah menemukan pasar yang lebih luas. Di antara dua dunia itulah Tantri Subekti mencoba membuat jembatan.

Pelantikan Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang IPEMI Kota Dumai periode 2026–2031 di Pendopo Balai Sri Bunga Tanjung pada 1 Agustus 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan tersebut. Acara itu tidak hanya menghadirkan pengurus organisasi dan pelaku usaha perempuan. Dalam pemberitaan yang menjadi dasar tulisan ini, hadir pula lebih dari 80 pelaku bisnis asal Malaysia dalam rombongan yang dipimpin Dato Seri Ramle Bin Mat Daly.

Lebih dari delapan puluh pebisnis dari negeri seberang berada dalam satu ruang bersama pelaku usaha Dumai. Angka itu bukan sekadar jumlah tamu. Di dalamnya ada kemungkinan, jaringan, pasar, percakapan dan peluang baru bagi dua wilayah yang secara geografis sangat dekat.

Dumai dan Malaysia hanya dipisahkan laut. Namun dalam dunia usaha, jarak yang dekat tidak otomatis melahirkan hubungan yang dekat. Diperlukan orang-orang yang membuka percakapan, organisasi yang mempertemukan jaringan, serta kepercayaan yang terus dibangun.

Tantri bersama jejaring International Strait Art Exhibition atau INSA melihat peluang tersebut tidak sebatas pada urusan jual-beli. Ada pariwisata, seni, kebudayaan dan ekonomi kreatif yang dapat tumbuh apabila semuanya dipertemukan dalam satu ekosistem.

“Saya melihat kedatangan para pelaku usaha dari Malaysia ini sebagai pintu yang besar. Jangan hanya datang, bertemu, berfoto lalu selesai. Kita harus mempertemukan mereka dengan UMKM kita, dengan seniman kita, dengan produk kreatif masyarakat Dumai. Kalau jaringan sudah terbuka, kita harus berani masuk,” kata Tantri.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat tempat. Mereka mencari pengalaman, makanan, cerita, pertunjukan, kerajinan dan sesuatu yang tidak mereka temukan di kota lain. Di sinilah kebudayaan bertemu dengan ekonomi.

Bukan untuk menjadikan seni semata-mata barang dagangan, tetapi untuk memastikan bahwa kreativitas masyarakat juga dapat memberi kehidupan kepada orang-orang yang menciptakannya. Sebuah produk akan lebih mudah diingat ketika ia membawa cerita, karakter dan identitas daerah.

Dalam rangkaian komunikasi pada momentum tersebut, dibicarakan pula agenda dialog dan kegiatan seni pada September 2026 yang melibatkan peserta lintas negara. Sejumlah akademisi, seniman dan pengamat budaya disebut akan mengambil bagian.

Agenda lain yang lebih besar diarahkan menuju Pameran Seni dan Budaya se-ASEAN pada 18–20 Desember 2026. Ruang itu diharapkan mempertemukan dunia seni dengan para pelaku bisnis dari dalam maupun luar negeri.

Gagasan seperti ini penting karena seni dan bisnis selama ini kerap dianggap dua dunia yang berseberangan. Yang satu berbicara rasa, yang lain berbicara angka. Yang satu dianggap idealis, yang lain dianggap pragmatis.

Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana itu.

Seniman juga hidup di dalam ekonomi. Pelaku usaha membutuhkan kreativitas. Sebuah kota membutuhkan keduanya. Di belakang satu produk ada manusia. Di belakang manusia ada keluarga. Di belakang keluarga ada kebiasaan, tradisi dan pengetahuan. Di belakang sebuah kota ada cerita yang menentukan bagaimana orang lain melihatnya.

Apakah Dumai hanya tempat kapal berlabuh? Apakah Dumai hanya kota industri? Ataukah kota ini juga dapat dikenal sebagai tempat seni tumbuh, produk kreatif berkembang dan pertemuan antarnegara menemukan panggungnya?

Kemitraan IPEMI Kota Dumai dengan PSBM Malaysia yang dituangkan melalui MoU menjadi salah satu pintu formal menuju kemungkinan tersebut. Namun sebuah nota kesepahaman tidak boleh berhenti di dalam map.

“Bagi saya, MoU itu bukan akhir. Justru setelah tanda tangan itulah pekerjaan dimulai. Kalau tidak ada pertemuan lanjutan, tidak ada produk yang dipromosikan, tidak ada pameran dan tidak ada jaringan yang bergerak, kertas itu akhirnya hanya menjadi arsip. Saya ingin hubungan ini benar-benar hidup,” ujar Tantri.

Tindak lanjut menjadi kunci. Pertemuan lanjutan, promosi produk, pertukaran jaringan, pameran, kegiatan budaya, kerja sama pariwisata dan pembukaan pasar akan menentukan apakah pertemuan tersebut hanya dikenang sebagai sebuah acara atau menjadi awal sesuatu yang lebih besar.

Hubungan lintas negara tidak selalu harus dimulai dengan proyek raksasa. Kadang ia dimulai dari seorang perempuan yang membawa produk hasil usahanya, seorang seniman yang membawa lukisan, atau seorang pengrajin yang membawa karya.

Kemudian seseorang dari negeri lain melihatnya, menyukainya, membawanya pulang dan menceritakannya kepada orang lain. Begitulah jaringan bekerja. Perlahan, tetapi ketika terus tumbuh ia dapat mengubah banyak hal.

Selat Malaka telah menyaksikan manusia bergerak selama ratusan tahun. Kapal datang dan pergi. Barang berpindah. Budaya bertemu. Hari ini lintasan yang sama dapat memperoleh makna baru, bukan hanya sebagai jalan bagi kapal besar dan perdagangan industri, tetapi juga jalan bagi karya-karya kecil untuk menemukan dunia yang lebih luas.

Karena itu, seni tidak lagi cukup dipajang. UMKM tidak cukup hanya diberi stan. Kerja sama tidak cukup disimpan sebagai foto.

Semuanya harus bergerak. Semuanya harus mencari jalan.

Dan mungkin di sanalah pekerjaan sesungguhnya dimulai: bukan ketika pena menyentuh kertas MoU, melainkan ketika gagasan mempunyai keberanian untuk menyeberangi laut.

DUMAI TAK MAU SEKADAR MENJADI DERMAGA: KEMAH SASTRA ASEAN MENYIAPKAN PANGGUNG DIPLOMASI BUDAYA

 

DUMAI — Selama bertahun-tahun orang mengenal Dumai melalui pelabuhan, industri dan lalu-lalang kapal. Kota ini tumbuh menghadap laut. Kapal datang membawa muatan, kapal pergi membawa hasil bumi dan produk industri. Cerobong menjadi bagian dari cakrawala dan pelabuhan menjadi denyut ekonomi.

Semua itu nyata dan menjadi bagian penting perjalanan Dumai. Tetapi sebuah kota sesungguhnya mempunyai lebih banyak cerita daripada yang terlihat dari dermaga dan angka perdagangan. Kota juga mempunyai ingatan, lagu, sastra, orang-orang yang menari, serta generasi yang mencoba menjaga hubungan dengan masa lalu sambil berjalan menuju masa depan.

Dari kesadaran seperti itulah sebuah gagasan dibicarakan di Gedung Wan Dahlan Ibrahim atau Media Center Kota Dumai pada 4 Agustus 2026. Namanya: Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN 2026.

Gagasan yang diusung Tantri Subekti, S.Pd. itu mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kota Dumai. Pertemuan tersebut dihadiri Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Dumai Hj. Yusmanidar, S.Sos., M.Si., Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Agus Gunawan, S.Sos., unsur pemerintah terkait, camat, lurah serta jajaran panitia.

Sekilas, orang dapat melihatnya sebagai persiapan sebuah acara. Ada jadwal, tempat, peserta dan rangkaian kegiatan. Namun yang sedang dipersiapkan bukan sekadar keramaian tiga hari. Yang sedang dibangun adalah ruang perjumpaan: tempat bagi sastra bertemu seni, masyarakat pesisir bertemu tamu dari negara lain, dan Dumai mencoba berbicara kepada kawasan melalui bahasa kebudayaan.

“Saya ingin orang datang ke Dumai bukan hanya karena pelabuhan atau industrinya. Saya ingin mereka datang karena seni, sastra dan budaya kita. Dumai punya cerita, punya seniman, punya masyarakat pesisir. Semua itu harus berani kita tampilkan kepada kawasan ASEAN,” kata Tantri.

Dalam rancangan kegiatan, seniman, sastrawan, budayawan, akademisi hingga tokoh perfilman dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand dan Singapura direncanakan datang dan bertemu di Dumai.

Lima negara, beragam latar dan beragam bahasa sehari-hari. Namun semuanya hidup dalam kawasan yang mempunyai banyak persinggungan sejarah. Kebudayaan memang tidak pernah benar-benar mengenal garis batas yang kaku. Musik bergerak, bahasa bergerak, cerita berpindah, makanan saling memengaruhi dan puisi menemukan bentuk-bentuk baru.

Kemah tersebut dijadwalkan berlangsung 11–13 September 2026 di Pantai Tantrayana, Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, dengan target sekitar 150 peserta.

Pemilihan kawasan pantai mempunyai makna tersendiri. Laut bukan sekadar pemandangan. Laut adalah bagian dari sejarah kawasan. Dari sanalah manusia dahulu bergerak dan hubungan antarwilayah dibangun jauh sebelum orang mengenal istilah diplomasi budaya.

Rangkaian kegiatan dirancang mencakup dialog sastra lintas bangsa, pertunjukan seni, pengenalan kuliner tradisional, wisata bahari dan ruang interaksi antarpeserta.

Asisten II Kota Dumai Hj. Yusmanidar menyampaikan dukungan pemerintah terhadap persiapan kegiatan. Kepala Diskopar Dumai Agus Gunawan juga menyatakan kesiapan untuk menyinergikan potensi yang ada agar kegiatan berkembang menjadi agenda berkelanjutan.

Kata berkelanjutan menjadi penting. Sebab salah satu persoalan kegiatan budaya adalah ia sering sangat meriah ketika dibuka, kemudian segera dilupakan setelah panggung dibongkar. Lampu menyala, orang bertepuk tangan, pejabat memberi sambutan, foto dipublikasikan, lalu sunyi.

“Saya tidak ingin kegiatan ini selesai ketika panggung dibongkar. Yang harus tinggal itu jaringan, persahabatan, karya dan komunikasi antarseniman. Kalau setelah mereka pulang kita masih bisa membuat kegiatan bersama, bertukar karya dan saling mengundang, berarti pertemuan ini benar-benar punya arti,” ujar Tantri.

Sebuah kegiatan budaya seharusnya meninggalkan sesuatu: hubungan antarseniman, jaringan antarnegara, tulisan, dokumentasi, karya, pertemanan, pengetahuan dan keinginan untuk bertemu kembali.

Jika yang tertinggal hanya baliho dan foto, berarti sebuah perhelatan belum sepenuhnya hidup.

Kebudayaan terlalu penting untuk hanya menunggu kalender perayaan. Ia harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Generasi muda harus mengetahui bahwa identitas bukan pakaian yang hanya dipakai ketika ada acara. Ia hidup dalam bahasa, sikap, karya, cerita dan cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN mencoba membuka ruang ke arah tersebut, bukan dengan ceramah panjang mengenai identitas, tetapi melalui perjumpaan. Seorang penyair bertemu penyair dari negara lain. Seorang seniman melihat karya seniman lain. Seorang peserta mencicipi makanan yang belum pernah ia kenal. Seseorang mendengar cara orang lain menyebut dunia.

Di situlah kebudayaan bekerja. Perlahan, tetapi dalam.

Jika kegiatan lintas negara ini dapat tumbuh menjadi agenda berkala, Dumai mempunyai kesempatan membangun identitas baru di mata kawasan. Bukan berarti meninggalkan wajah industrinya. Dumai dapat tetap menjadi kota industri sekaligus kota seni, tetap menjadi kota pelabuhan sekaligus kota pertemuan budaya, dan tetap berbicara tentang ekonomi sekaligus tentang puisi.

Sebab manusia tidak hidup hanya dari satu sisi kehidupan. Kota pun demikian. Ia membutuhkan tubuh, ekonomi, tetapi juga membutuhkan jiwa.

Pelabuhan memang membuat kapal datang. Industri membuat roda ekonomi bergerak. Namun kebudayaanlah yang dapat membuat orang mengingat sebuah tempat lama setelah kapal meninggalkan dermaga.

Dan dari pantai di sebuah kota bernama Dumai, upaya membangun ingatan itu sedang dimulai.

DARI RUANG RAPAT KE PESISIR: GAGASAN TANTRI SUBEKTI MEMBAWA DUMAI MENATAP ASIA TENGGARA

 DUMAI — Setiap perhelatan besar hampir selalu bermula dari sesuatu yang terlihat sangat biasa: percakapan. Orang-orang duduk di sebuah ruangan, kertas dibuka, nama-nama disebut, jadwal diperiksa, tempat dipertimbangkan dan gagasan diperdebatkan.

Belum ada panggung, belum ada lampu, belum ada musik dan belum terdengar tepuk tangan. Namun masa depan kadang memang lahir dalam kesunyian ruang rapat.

Begitulah semangat yang terlihat ketika gagasan Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN 2026 dibicarakan bersama Pemerintah Kota Dumai pada 4 Agustus 2026.

Tantri Subekti hadir bukan semata membawa proposal kegiatan. Ada pertanyaan yang lebih besar: mengapa kota yang berada begitu dekat dengan jalur internasional harus puas menjadi penonton ketika kebudayaan kawasan terus bergerak?

Dumai memiliki posisi geografis yang unik. Kota ini berada di pesisir, berhadapan dengan Selat Malaka, dekat dengan negeri-negeri tetangga dan sejak lama menjadi salah satu pintu pergerakan manusia serta barang. Namun kedekatan geografis tidak otomatis menghasilkan kedekatan kebudayaan yang aktif. Sebuah jembatan tetap harus dibangun.

Seni dan sastra dapat menjadi salah satu bahan terkuat untuk membangun jembatan itu.

“Dumai ini berada di pintu yang sangat strategis. Kita berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan dekat dengan negara-negara tetangga. Menurut saya, posisi ini jangan hanya dimanfaatkan untuk perdagangan dan industri. Seni dan budaya juga harus ikut menyeberang,” kata Tantri.

Dalam konsep yang dipaparkan, kegiatan tersebut dirancang mempertemukan sastrawan, seniman, akademisi, budayawan dan tokoh perfilman dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand serta Singapura.

Pemerintah Kota Dumai menyambut rencana tersebut. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Dumai Hj. Yusmanidar menilai kegiatan itu memiliki nilai strategis dalam memperkenalkan potensi daerah. Dukungan juga datang dari Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Dumai Agus Gunawan.

Pertemuan antara pemerintah dan komunitas seni seperti ini mempunyai arti penting. Seniman dapat melahirkan gagasan, tetapi gagasan besar membutuhkan ruang, akses, fasilitas, keterlibatan masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan terutama banyak tangan yang mau bekerja.

Kebudayaan hanya tumbuh jika ekosistemnya hidup.

Seorang penyair dapat menulis sendiri di kamar, tetapi gerakan sastra tidak lahir dari satu meja tulis. Seorang pelukis dapat bekerja sendirian di studio, tetapi ekosistem seni membutuhkan penonton, ruang pamer, jaringan, kritik, pendidikan dan dokumentasi.

Begitu pula sebuah kegiatan internasional. Ia tidak mungkin hidup hanya karena satu orang mempunyai gagasan. Ia membutuhkan banyak orang yang percaya.

Pantai Tantrayana di Teluk Makmur kemudian direncanakan menjadi lokasi kegiatan pada 11–13 September 2026. Sekitar 150 peserta ditargetkan terlibat dalam dialog sastra, pertunjukan seni, budaya, kuliner dan wisata pesisir.

Di atas kertas, jumlah itu tampak seperti angka. Namun setiap angka adalah satu manusia, satu pengalaman, satu cerita dan satu jaringan.

Seratus lima puluh orang yang bertemu selama beberapa hari dapat membawa pulang seratus lima puluh versi cerita tentang Dumai. Dan cerita mempunyai kekuatan yang sering diremehkan.

Promosi resmi dapat membeli ruang iklan, tetapi pengalaman yang berkesan akan diceritakan secara sukarela.

“Saya selalu berpikir, setiap tamu yang datang ke Dumai sebenarnya bisa menjadi pembawa cerita. Kalau mereka pulang dengan pengalaman yang baik, melihat seni kita, menikmati kuliner kita dan bertemu masyarakat kita, mereka akan menceritakan Dumai kepada orang lain. Itu promosi yang sangat kuat,” ujar Tantri.

Seseorang pulang ke negaranya dan berkata bahwa ia pernah datang ke Pantai Tantrayana. Ia berbicara tentang orang yang ditemuinya, makanan yang dicicipinya, puisi yang didengarnya dan pertunjukan yang dilihatnya. Dari situlah sebuah kota mulai memperoleh tempat dalam ingatan orang lain.

Bayangkan sebuah pantai yang biasanya berbicara dengan bahasa angin dan ombak. Kemudian selama beberapa hari suara itu bertemu dengan puisi, musik, diskusi, teater, tawa dan percakapan dalam berbagai logat.

Itulah wajah lain diplomasi.

Diplomasi tidak selalu berlangsung di gedung megah dan tidak selalu memerlukan meja panjang dengan bendera negara berjejer rapi. Kadang diplomasi berlangsung ketika seorang penyair membaca sajak dan seseorang dari negeri lain memahami perasaannya. Kadang ketika dua seniman berbeda bahasa menemukan kesamaan melalui karya. Kadang di meja makan, di panggung kecil atau di tepi pantai.

Karena itu, cita-cita menjadikan kegiatan ini sebagai agenda berkelanjutan layak dibaca lebih jauh daripada sekadar urusan pariwisata. Yang sedang dibangun adalah identitas kota.

Kperlu meniru kota lain. Justru kekuatan terbesar lahir ketika sebuah kota berani menjadi dirinya sendiri.

Identitas tidak dapat dibeli seperti membangun gedung. Ia tumbuh perlahan dari acara yang konsisten, dari orang yang terus bekerja, dari generasi yang merasa memiliki dan dari gagasan yang tidak dibiarkan mati setelah satu kali penyelenggaraan.

Semua tradisi besar pada suatu hari pernah menjadi kegiatan pertama. Semua festival besar pernah mempunyai panggung kecil. Semua gerakan kebudayaan pernah dimulai oleh beberapa orang yang dianggap terlalu banyak bermimpi.

Maka dari ruang rapat menuju pesisir, perjalanan gagasan itu dimulai.

Kelak sejarah akan memberi jawaban: apakah Kemah Sastra Seni Budaya ASEAN hanya menjadi satu perhelatan yang pernah dilaksanakan, atau justru menjadi titik awal ketika Dumai mulai dikenal bukan hanya dari apa yang keluar dari pelabuhannya, tetapi juga dari apa yang lahir dari jiwa masyarakatnya?

Waktu akan menjawab.

Tetapi sebelum sejarah menuliskannya, seseorang memang harus berani memulainya.ota-kota besar di dunia diingat bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena cerita, festival, seni, suasana dan pengalaman yang hanya dapat ditemukan di sana. Dumai mempunyai kesempatan membangun pengalaman seperti itu dengan caranya sendiri.

Tidak 

SILATURAHMI TAK BERHENTI DI MEJA MAKAN: PERTEMUAN TANTRI SUBEKTI DAN HNI MEMBUKA PINTU KOLABORASI

 

DUMAI — Pertemuan yang baik tidak selalu menghasilkan keputusan pada hari yang sama. Kadang ia hanya meninggalkan percakapan, sebuah jabat tangan, satu nomor telepon, beberapa gagasan dan kemungkinan yang belum mempunyai nama.

Tetapi percakapan yang bertemu dengan orang tepat sering kali mempunyai umur lebih panjang daripada acara yang melahirkannya.

Sabtu, 15 Agustus 2026, Tantri Subekti menghadiri perayaan Milad ke-14 HNI Islamiyah di kediaman Direktur HNI Herbal sekaligus seniman budaya Dumai, H. Suryanto, di Jalan Meranti Laut, Kelurahan STDI, Kecamatan Dumai Barat.

Suasana hari itu merupakan pertemuan keluarga besar HNI yang diisi dengan silaturahmi, pengenalan perjalanan organisasi serta berbagai produk yang mereka kembangkan.

Empat belas tahun tentu bukan usia yang datang dalam semalam. Di belakang angka itu ada perjalanan, orang-orang yang datang lalu bertahan, proses memperkenalkan produk, usaha membangun kepercayaan masyarakat dan sistem yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Menurut informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, HNI Islamiyah terus melakukan pengembangan produk, termasuk memperkenalkan produk-produk baru kepada masyarakat setiap tahunnya. Dalam perayaan itu, para anggota juga memperoleh penjelasan mengenai produk serta sistem pelayanan HNI.

H. Suryanto menyampaikan pandangannya mengenai pengembangan bisnis jaringan yang didukung teknologi dan pelayanan secara daring maupun luring. Dunia memang telah berubah. Dulu jaringan bisnis banyak dibangun melalui pertemuan langsung. Orang berkeliling membawa katalog dan produk dikenalkan dari pintu ke pintu. Hari ini layar telepon menjadi etalase, pesan dapat sampai dalam hitungan detik dan pertemuan dapat berlangsung secara virtual.

Namun ada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi: kepercayaan antarmanusia.

“Teknologi memang membuat kita lebih cepat berkomunikasi, tetapi menurut saya hubungan antarmanusia tetap nomor satu. Orang mau bekerja sama karena ada kepercayaan. Dan kepercayaan itu banyak lahir dari silaturahmi, dari duduk bersama, dari saling mengenal,” kata Tantri.

Karena itu, pertemuan semacam Milad tetap mempunyai arti. Orang-orang datang, berbicara, menatap wajah satu sama lain, makan bersama dan dari pertemuan seperti itulah rasa percaya sering tumbuh.

Kemeriahan semakin terasa ketika sejumlah undian bagi anggota digelar. Dua kesempatan menunaikan ibadah umrah serta hadiah sepeda motor menjadi bagian dari rangkaian apresiasi yang disiapkan.

Acara juga disiarkan secara langsung sehingga dapat diikuti anggota HNI dari berbagai daerah di Indonesia. Teknologi memungkinkan ruang perayaan menjadi lebih luas daripada halaman rumah tempat acara berlangsung.

Namun sebuah pertemuan tidak semestinya hanya dilihat dari kemeriahan hadiah. Hadiah akan dibawa pulang, acara akan selesai dan kursi akan dikembalikan. Tetapi hubungan yang lahir dari sebuah pertemuan dapat tumbuh jauh lebih lama.

Di sinilah muncul kemungkinan bertemunya dua dunia. Dunia usaha mempunyai jaringan, produk, sistem dan kemampuan distribusi. Sementara dunia seni dan kebudayaan mempunyai cerita, kreativitas, daya tarik emosional serta kemampuan membuat sesuatu yang biasa menjadi memiliki makna.

Ketika keduanya saling mendengar, selalu ada kemungkinan lahirnya sesuatu yang baru. Seni dapat membantu sebuah produk menemukan cerita. Kebudayaan dapat memberi identitas. Dunia usaha dapat membantu karya memperoleh ruang dan dukungan.

“Saya melihat dunia usaha dan dunia seni sebenarnya saling membutuhkan. Pengusaha punya jaringan dan kemampuan distribusi, sementara seniman punya kreativitas dan cerita. Kalau dua kekuatan ini dipertemukan, kita bisa membuat kegiatan yang lebih besar dan manfaatnya juga bisa dirasakan masyarakat,” ujar Tantri.

Hubungan seperti itu tidak harus selalu berbentuk proyek besar. Kadang kolaborasi dimulai dari hal kecil: sebuah kegiatan bersama, dukungan terhadap acara seni, promosi produk lokal, pertemuan komunitas, pameran atau sekadar saling membuka jaringan.

Kehadiran Tantri dalam Milad ke-14 HNI Islamiyah karena itu menjadi ruang komunikasi mengenai kemungkinan kerja sama pada masa mendatang.

Tidak setiap percakapan perlu buru-buru diberi nama. Tidak setiap pertemuan harus berakhir dengan penandatanganan dokumen. Tidak semua ide harus langsung diumumkan sebagai program.

Kadang sebuah gagasan membutuhkan waktu untuk menemukan bentuknya.

Seperti benih. Ia tidak perlu ditarik agar cepat tumbuh. Yang dibutuhkan adalah tanah yang baik, air dan kesempatan.

Banyak karya besar justru lahir dari proses panjang. Sebuah puisi mungkin bermula dari satu kalimat yang disimpan berhari-hari. Sebuah lukisan dapat berawal dari satu warna yang terus mengganggu pikiran. Sebuah pertunjukan besar mungkin bermula dari obrolan kecil di warung kopi.

Begitu pula kerja sama. Ia dapat bermula dari pertemuan yang pada awalnya tampak biasa saja.

Milad tersebut kemudian ditutup dengan jamuan makan siang. Orang-orang duduk semeja, berbicara, tertawa, mengenang perjalanan dan membicarakan hari-hari mendatang.

Mungkin bagi sebagian orang makan siang hanyalah penutup acara. Namun dalam kebudayaan kita, meja makan mempunyai makna yang jauh lebih dalam. Di sanalah jarak sering menghilang, jabatan menjadi tidak terlalu penting, orang berbagi makanan dan percakapan mengalir tanpa podium.

Banyak gagasan justru lahir dalam suasana seperti itu. Bukan ketika mikrofon dinyalakan, melainkan ketika orang merasa cukup nyaman untuk berbicara apa adanya.

Pertemuan Tantri Subekti dengan keluarga besar HNI pada hari itu mungkin belum menghasilkan sebuah kolaborasi yang dapat diumumkan dengan huruf besar. Namun pintunya telah terbuka.

Dunia usaha membutuhkan kreativitas. Dunia seni membutuhkan jaringan. Masyarakat membutuhkan keduanya.

Jika suatu hari pertemuan itu tumbuh menjadi kolaborasi, orang mungkin akan melihat kembali Milad ke-14 tersebut sebagai salah satu titik kecil dalam perjalanan yang lebih panjang.

Sebab sesuatu yang besar tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang sebagai obrolan ringan, sebagai jabat tangan, sebagai pertemuan, atau bahkan sebagai percakapan sederhana di meja makan.

Dan dari sanalah sebuah kemungkinan mulai tumbuh.

JIKA TRADISI TAK MASUK KE DUNIA DIGITAL, JANGAN HERAN BILA GENERASI BERIKUTNYA TAK PERNAH MENEMUKANNYA

 

DUMAI — Ada satu kekeliruan yang sering dilakukan ketika berbicara tentang anak muda dan kebudayaan. Kita meminta mereka mencintai tradisi, tetapi tradisi jarang hadir di tempat mereka hidup. Kita meminta mereka mengenal karya-karya lama, tetapi dunia digital mereka dipenuhi karya dari tempat lain.

Kita meminta mereka menjaga identitas. Tetapi ketika membuka telepon, yang mereka temukan hampir seluruhnya adalah tren global. Lalu ketika suatu hari mereka lebih mengenal budaya asing daripada budayanya sendiri, orang dewasa bertanya: mengapa anak-anak sekarang berubah?

Pertanyaan itu mungkin perlu dibalik.

Apakah kebudayaan telah cukup berani mendatangi mereka?

Semangat inilah yang menjadi salah satu denyut Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantri Trayana Mundam, kawasan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Dumai.

Pertemuan lintas negara tersebut mengangkat tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.” Judulnya langsung menempatkan dua dunia dalam satu kalimat: tradisi dan teknologi.

Bagi sebagian orang, keduanya dianggap berlawanan. Tradisi diasosiasikan dengan masa lalu, teknologi dianggap masa depan. Padahal pembagian itu terlalu sederhana.

Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah adalah manusia.

“Kita sering menyalahkan anak muda karena terlalu dekat dengan telepon, tapi saya pikir kita juga harus bertanya: sudahkah budaya kita hadir di telepon mereka? Kalau tidak ada konten budaya, tidak ada dokumentasi, tidak ada karya yang menarik, bagaimana mereka mau menemukannya?” kata Tantri.

Sebuah telepon dapat digunakan berjam-jam untuk menonton sesuatu yang segera dilupakan. Tetapi telepon yang sama dapat merekam wawancara dengan seorang tetua yang menyimpan pengetahuan puluhan tahun.

Media sosial dapat membuat orang kecanduan sensasi. Tetapi media yang sama dapat membawa satu pertunjukan lokal disaksikan orang dari negara lain.

Internet dapat membuat generasi muda tenggelam dalam arus global. Tetapi ia juga dapat menjadi perpustakaan terbesar yang pernah dimiliki manusia.

Pilihan itulah yang menjadi medan sesungguhnya.

Dalam rangkaian kegiatan di Pantai Tantri Trayana, seni, sastra, teater, diskusi dan berbagai aktivitas kreatif dipertemukan dengan pembicaraan mengenai literasi serta perkembangan zaman. Peserta dari berbagai daerah dan negara berinteraksi bukan hanya sebagai penonton.

Ada workshop.

Ada latihan.

Ada pertunjukan.

Ada dialog.

Ada proses saling melihat bagaimana budaya dapat disajikan tanpa harus membekukannya.

Sebab budaya yang hidup berbeda dengan benda museum. Ia berubah, beradaptasi, menyerap pengaruh, kemudian melahirkan bentuk baru.

Yang perlu dijaga bukan agar kebudayaan tidak pernah berubah. Hal itu hampir mustahil.

Yang lebih penting adalah memastikan perubahan tidak memutus hubungan dengan akar.

Sebuah pohon tumbuh ke atas justru karena akarnya masuk semakin dalam. Jika akar dipotong, pertumbuhan yang terlihat tinggi hanya menunggu waktu untuk roboh.

Begitu pula generasi digital.

Tidak ada alasan meminta mereka kembali hidup seperti generasi lima puluh tahun lalu. Mereka mempunyai zamannya sendiri.

Tugas kebudayaan bukan menyeret mereka kembali. Tugas kebudayaan adalah membawa nilai lama ke dalam bahasa baru tanpa kehilangan maknanya.

Puisi dapat menjadi video. Cerita rakyat dapat menjadi animasi. Dokumentasi tradisi dapat disimpan dalam arsip digital. Pertunjukan dapat disiarkan langsung. Musik dapat direkam dengan kualitas tinggi. Naskah lama dapat didigitalisasi. Profil seniman dapat ditemukan melalui mesin pencari. Bahkan pantun dapat masuk ke platform yang digunakan anak muda.

Mengapa tidak?

“Saya tidak ingin teknologi menggantikan panggung. Saya ingin teknologi memperpanjang panggung. Pertunjukan mungkin hanya berlangsung satu malam, tetapi kalau didokumentasikan dengan baik, orang bisa menontonnya bertahun-tahun kemudian. Itu yang harus kita manfaatkan,” ujar Tantri.

Masalahnya bukan medianya. Masalah muncul ketika kita begitu takut terhadap perubahan sampai memilih tidak hadir.

Ruang kosong tidak akan tetap kosong.

Jika kebudayaan lokal tidak mengisinya, sesuatu yang lain akan datang.

Algoritma tidak mempunyai kewajiban menjaga identitas suatu masyarakat. Ia hanya menampilkan sesuatu yang dianggap mampu mempertahankan perhatian pengguna.

Karena itu, pelestarian budaya di era digital membutuhkan lebih dari nostalgia. Ia membutuhkan strategi, dokumentasi yang baik, kreator, penulis, fotografer, videografer, desainer, pengelola arsip, guru, seniman, komunitas dan generasi muda yang tidak hanya menjadi konsumen layar, tetapi juga produsen pengetahuan.

Tantri melihat ruang digital sebagai wilayah yang perlu dimasuki. Bukan dengan ketakutan, tetapi dengan karya.

Jika satu pertunjukan hanya disaksikan seratus orang di pantai, dokumentasinya dapat menjangkau ribuan. Jika satu seniman hanya dikenal di lingkungannya, profil digital dapat mempertemukannya dengan jaringan dari luar daerah. Jika satu cerita hanya diketahui seorang tetua, rekaman dapat membuatnya tetap terdengar ketika sang pencerita tidak lagi ada.

Teknologi tidak menjanjikan keabadian. Tidak ada media yang benar-benar abadi. Tetapi ia memberikan kemungkinan penyimpanan dan penyebaran yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya.

Dan kemungkinan itu terlalu berharga untuk disia-siakan.

Pertemuan di Pantai Tantri Trayana juga menunjukkan bahwa literasi tidak semata-mata berhubungan dengan membaca buku. Literasi hari ini jauh lebih luas: bagaimana membaca informasi, membedakan pengetahuan dengan kebisingan, menggunakan teknologi secara etis, menciptakan konten, memahami jejak digital, dan dalam konteks kebudayaan—bagaimana memindahkan nilai ke ruang digital tanpa menjadikannya dangkal.

Inilah tantangan besar.

Media sosial menyukai kecepatan. Kebudayaan sering membutuhkan kedalaman. Media sosial menyukai sesuatu yang pendek. Sejarah membutuhkan konteks. Algoritma menyukai hal yang sedang ramai. Tradisi tidak selalu populer.

Maka pekerjaan orang-orang budaya menjadi lebih berat.

Mereka harus cukup memahami akar untuk tidak mengkhianatinya, tetapi juga cukup memahami zaman agar pesan mereka tidak berbicara kepada ruang kosong.

Pantai Tantri Trayana menjadi ruang simbolis bagi gagasan tersebut. Di hadapan peserta terbentang laut. Laut adalah teknologi paling tua yang menghubungkan masyarakat kawasan ini.

Berabad-abad lalu, kapal membawa bahasa, cerita dan kebudayaan dari satu pantai ke pantai lainnya. Hari ini jaringan digital melakukan sesuatu yang mirip dengan kecepatan yang nyaris tidak dapat dibayangkan nenek moyang.

Perbedaannya hanya satu.

Kapal tetap membutuhkan pelaut untuk menentukan arah.

Internet pun demikian.

Tanpa manusia yang tahu apa yang hendak dibawa, kecepatan tidak mempunyai arti.

Karena itu, pembicaraan mengenai kebudayaan di era digital pada akhirnya bukan semata-mata pembicaraan mengenai teknologi.

Ia adalah pembicaraan tentang manusia.

Tentang pilihan.

Tentang apa yang kita anggap cukup berharga untuk disimpan.

Tentang cerita apa yang ingin kita wariskan.

Dan tentang apakah generasi sesudah kita kelak masih dapat menemukan jejak kita.

Tantri tidak ingin budaya hanya menjadi kenangan. Ia harus menjadi percakapan. Tidak hanya menjadi sesuatu yang dilihat dalam foto lama, tetapi sesuatu yang masih dibuat hari ini. Tidak hanya dikenakan saat seremoni, tetapi hidup dalam kreativitas. Tidak hanya disebut dalam pidato, tetapi hadir di ruang tempat generasi muda menjalani hidupnya.

Termasuk ruang digital.

Sebab kita tidak dapat meminta anak muda mencari sesuatu yang tidak pernah kita letakkan di hadapan mereka.

Dan bila suatu hari tradisi tidak ditemukan lagi di layar generasi berikutnya, jangan terlalu cepat menyalahkan teknologi.

Barangkali masalahnya lebih sederhana:

kita terlambat mengunggah ingatan kita sendiri.

PANGGUNG ITU MENGHADAP LAUT: DARI PESISIR DUMAI, EMPAT NEGARA MENEMUKAN BAHASA YANG SAMA

 DUMAI — Batas negara digambar manusia di atas peta. Laut tidak pernah membacanya. Ombak dari satu pantai bergerak menuju pantai lain tanpa bertanya siapa pemilik wilayah. Angin melintas dari satu negeri ke negeri berikutnya tanpa paspor.

Barangkali karena itulah kawasan pesisir menjadi tempat yang tepat untuk berbicara tentang hubungan antarbangsa.

Pada September 2026, Pantai Tantriayana di kawasan Teluk Makmur, Medang Kampai, Dumai, tidak sekadar menjadi latar. Pantai itu menjadi panggung.

Dalam pertemuan budaya internasional yang digagas Tantri Subekti, peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam bertemu dalam rangkaian seminar, dialog dan pertunjukan. Tema besar yang diangkat adalah “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Namun yang terlihat di lapangan jauh lebih berwarna daripada sebuah tema di spanduk. Seniman bertemu akademisi. Budayawan duduk bersama komunitas kreatif. Sastrawan berbicara dengan pelaku seni dari negeri lain. Tradisi bertemu teknologi. Panggung bertemu pantai. Berbagai generasi berada dalam ruang yang sama.

“Saya memilih pantai bukan hanya karena tempatnya indah. Kita ini masyarakat pesisir. Laut adalah bagian dari sejarah kita. Dari laut inilah orang datang, budaya bertemu dan hubungan dengan negeri-negeri seberang dibangun sejak lama,” kata Tantri.

Bagi Tantri, pemilihan pantai sebagai tempat kegiatan bukan sekadar persoalan pemandangan. Pesisir mempunyai ingatan. Selat Malaka telah menjadi jalur pertemuan manusia selama berabad-abad. Melaluinya datang pedagang, pelaut, ulama, pekerja, seniman, keluarga, cerita, bahasa, musik dan berbagai pengaruh yang kemudian tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kawasan.

Karena itu, ketika peserta lintas negara kembali bertemu di tepi laut Dumai, ada hubungan simbolik dengan sejarah yang jauh lebih panjang daripada acara tersebut.

Perbedaannya hanya alat yang digunakan. Dahulu orang membawa cerita dengan kapal. Hari ini sebuah cerita dapat berpindah negeri melalui internet dalam hitungan detik. Dahulu pertunjukan hanya hidup sejauh suara dapat terdengar. Hari ini satu rekaman dapat ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Zaman berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk bertemu tidak hilang.

Rangkaian kegiatan menghadirkan dialog seni dan kebudayaan, pembicaraan mengenai peradaban, kreativitas serta peran seni di tengah perkembangan zaman. Malam harinya, panggung pesisir menghadirkan arakan kompang, Tari Persembahan, Tepak Sirih, musikalitas puisi, teatrikal hingga penampilan lintas negara.

Jibam Ramlee dari Malaysia menjadi salah satu seniman yang tampil dalam rangkaian tersebut.

Tradisi tidak disimpan dalam lemari. Ia dibawa keluar, dibunyikan, digerakkan, dipertontonkan, dan yang lebih penting: dipertemukan dengan orang lain.

Sebab kebudayaan yang tidak pernah bertemu kebudayaan lain dapat merasa dirinya paling besar atau justru merasa paling kecil. Perjumpaan membuat manusia mempunyai ukuran yang lebih sehat. Kita melihat persamaan, menemukan perbedaan, kemudian menyadari bahwa keduanya tidak selalu harus dipertentangkan.

Pertemuan itu juga diwarnai deklarasi dan dukungan terhadap International Strait Art Exhibition. Gagasan tersebut membuka kemungkinan terbentuknya jejaring seni di sepanjang kawasan selat.

“Saya ingin seniman-seniman di kawasan selat saling mengenal. Jangan sampai kita secara geografis sangat dekat, tetapi secara seni justru saling tidak tahu. Kalau jaringan ini hidup, kita bisa bertukar karya, bertukar panggung dan belajar satu sama lain,” ujar Tantri.

Jika terus dikembangkan, jejaring semacam itu berpotensi memberi ruang bagi seniman yang selama ini bekerja jauh dari pusat-pusat kebudayaan besar.

Dumai tidak berada di Jakarta. Ia tidak berada di Kuala Lumpur. Tidak pula Singapura. Tetapi geografis bukan alasan sebuah kota harus berada di pinggir kebudayaan.

Justru kota-kota pesisir mempunyai keunggulan sendiri. Mereka terbiasa menerima kedatangan, melihat orang pergi, dan hidup dengan perbedaan. Laut mengajarkan keterbukaan dengan caranya sendiri.

Dalam konteks itu, Pantai Tantriayana menjadi lebih dari lokasi acara. Ia menjadi pernyataan.

Bahwa panggung kebudayaan tidak selalu harus dibangun di pusat kota. Tidak selalu di ballroom hotel. Tidak selalu di gedung tertutup pendingin udara.

Kadang panggung cukup diletakkan menghadap laut.

Biarkan angin masuk.

Biarkan suara ombak menyela.

Biarkan orang duduk tanpa terlalu banyak jarak.

Kesan seperti itulah yang membuat sebuah kegiatan mempunyai karakter.

Dunia hari ini penuh acara. Setiap hari ada seminar, setiap minggu ada festival, setiap bulan ada perayaan.

Yang langka bukan acara.

Yang langka adalah ingatan.

Apakah orang masih mengingatnya setelah satu tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun?

Jawabannya sangat bergantung pada apakah kegiatan itu mampu membentuk sesuatu yang khas.

Tantri mencoba membangun kekhasan tersebut dengan mempertemukan pesisir, seni, sastra, komunitas dan lintas negara.

Tentu satu perhelatan belum cukup. Tidak ada pusat kebudayaan lahir dalam satu akhir pekan. Tradisi membutuhkan pengulangan, jejaring membutuhkan pemeliharaan, dan kepercayaan membutuhkan waktu.

Namun setiap perjalanan panjang memerlukan satu titik pada peta tempat seseorang berkata:

kita mulai dari sini.

Pantai Tantriayana dapat menjadi titik itu.

Tempat di mana orang-orang yang berbeda kewarganegaraan menemukan bahasa yang lebih tua daripada politik: seni.

Bahasa yang tidak selalu memerlukan terjemahan.

Ketika kompang berbunyi, tubuh mengerti ritmenya. Ketika puisi dibacakan, orang mungkin tidak menangkap setiap kata tetapi dapat merasakan nadanya. Ketika pertunjukan selesai, tepuk tangan datang dari berbagai tangan tanpa perlu dibedakan asal negaranya.

Barangkali di situlah seni sedang mengajari manusia sesuatu.

Bahwa dunia boleh mempunyai banyak batas.

Tetapi tidak semua hal harus berhenti di batas itu.

Dan malam itu, di sebuah pantai di Dumai, panggung menghadap laut seolah hendak berkata:

yang di seberang sana bukan selalu orang asing.

DUMAI BERHENTI MENJADI PENONTON: TANTRI SUBEKTI MEMBUKA PANGGUNG, LINTAS NEGARA MENJAWAB

 DUMAI — Sebuah kota dapat mempunyai letak strategis tetapi tetap berada di pinggir percakapan. Ia dapat mempunyai pelabuhan internasional, jalur laut, industri, bandara, jalan dan hotel. Tetapi untuk benar-benar dikenal, sebuah kota membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dibangun hanya dengan semen: karakter.

Pada September 2026, Tantri Subekti mencoba mendorong Dumai keluar dari posisi sebagai penonton. Gagasannya diwujudkan melalui Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantrayana, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai.

Dalam badan pemberitaan kegiatan tersebut disebutkan kehadiran peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Mereka dipertemukan melalui tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Tetapi tema hanyalah kalimat bila tidak diberikan tubuh. Karena itu, rangkaian acara dibuat bergerak sejak pagi. Peserta memulai aktivitas dengan Salat Subuh, senam, pengenalan lingkungan, sarapan hingga Rolling Thunder Vespa. Suasana kemudian bergeser menuju ruang gagasan.

Pada Dialog Seni dan Budaya Sesi I, pembicaraan diarahkan pada tema “Keindahan Seni dalam Peradaban Melayu dan Peradaban Islam: Harmoni Iman, Budaya dan Peradaban.” Forum menghadirkan Prof. Dr. H. Alaidin Koto, M.A.; Prof. Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D.; Dr. Bambang Kariyawan Ys, M.Pd.; dan H. Dheny Kurnia. Dialog dimoderatori Dr. Dian Oka, M.Sy.

Diskusi lalu bergerak menuju sesi antarnegara dengan tema “Kreativitas Seni dan Budaya: Ekosistem Imajinasi”, yang melibatkan pelaku seni dan kebudayaan dari Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan Jefry Al Malay sebagai moderator.

Pemilihan kata ekosistem imajinasi terasa tepat. Imajinasi sering dianggap barang mewah, sesuatu yang hanya dimiliki seniman. Padahal hampir semua perubahan besar dalam kehidupan manusia dimulai dari kemampuan membayangkan sesuatu yang belum ada.

“Kalau Dumai ingin punya ruang budaya yang lebih besar, kita harus berani membayangkannya lebih dulu. Jangan merasa karena kita bukan Jakarta atau Kuala Lumpur maka kita tidak bisa membuat pertemuan internasional. Kita punya laut, punya budaya dan punya seniman. Itu modal kita,” kata Tantri.

Sebelum gedung berdiri, seseorang membayangkannya. Sebelum kapal berlayar, seseorang membayangkan bahwa laut dapat diseberangi. Sebelum sebuah kota menjadi pusat kebudayaan, seseorang harus terlebih dahulu berani membayangkannya.

Barangkali itulah yang sedang dicoba Tantri.

Dumai selama ini terlalu kuat diasosiasikan dengan industri. Tidak ada yang salah dengan itu. Industri memberi pekerjaan, pelabuhan menggerakkan ekonomi. Namun kota yang sehat tidak hidup dengan ekonomi saja.

Ia membutuhkan ruang tempat manusia dapat menciptakan sesuatu yang tidak selalu dapat dihitung dengan tonase dan rupiah.

Malam hari menjadi bukti bagaimana gagasan itu diterjemahkan. Pantai Tantrayana berubah menjadi panggung. Arakan kompang, Tari Persembahan dan Tepak Sirih membawa unsur tradisi ke hadapan peserta. Kemudian tampil musikalitas puisi, teater dan berbagai hiburan lintas negara.

Seniman Malaysia Jibam Ramlee ikut mengambil bagian. Ada pula deklarasi International Strait Art Exhibition, pelantikan komunitas seni serta penandatanganan kanvas dukungan terhadap INSA.

Acara berlangsung hingga api unggun dinyalakan. Di bawah langit pesisir, orang-orang dari latar yang berbeda berkumpul.

Mungkin inilah bentuk pertemuan internasional yang jarang dibayangkan ketika orang mendengar kata diplomasi. Tidak ada meja negosiasi resmi dan pernyataan bilateral yang panjang. Tetapi manusia bertemu, dan dari pertemuan manusia hubungan sering kali tumbuh lebih jujur.

“Saya percaya seni itu punya bahasa sendiri. Kita mungkin berbeda negara dan berbeda cara bicara, tapi ketika musik dimainkan, puisi dibacakan atau pertunjukan dimulai, orang bisa saling merasakan. Di situlah seni menjadi jembatan,” ujar Tantri.

Tantri melihat kebudayaan sebagai salah satu bahasa paling lunak sekaligus paling kuat. Ia tidak memaksa, tetapi dapat menembus batas. Sebuah lagu tidak memerlukan visa. Puisi tidak perlu melewati pemeriksaan imigrasi. Gerak teater dapat dipahami bahkan tanpa terjemahan.

Rangkaian kegiatan malam ditutup hingga dini hari. Tetapi makna pertemuan seharusnya tidak ikut padam bersama api unggun.

Bila kegiatan lintas negara hanya menghasilkan keramaian, ia akan cepat dilupakan. Yang dibutuhkan setelahnya adalah jejaring, kolaborasi, pertukaran karya, kunjungan, pameran, pertemanan yang terus terhubung, serta ruang bagi generasi berikutnya untuk masuk.

Dumai mempunyai posisi alamiah untuk memainkan peran tersebut. Kota ini berada di wilayah pesisir yang sejak dahulu menjadi jalur pertemuan. Laut di hadapannya bukan tembok. Ia adalah jalan tua yang sudah digunakan manusia jauh sebelum jalan raya dibangun.

Hari ini jalan tua itu dapat diberi fungsi baru. Bukan hanya untuk membawa komoditas, tetapi juga gagasan, karya, seniman dan cerita dari satu negeri ke negeri lain.

Dan mungkin kelak, ketika orang mendengar nama Dumai, yang terbayang bukan hanya kapal dan industri.

Mereka juga mengingat sebuah pantai.

Sebuah panggung.

Sebuah pertemuan.

Sebuah kota yang akhirnya berani berhenti menjadi penonton.

Sebab kota memperoleh tempat dalam sejarah ketika ia menciptakan sesuatu yang layak diingat.

PANTAI YANG MENOLAK SUNYI: KETIKA PUISI, KOMPANG DAN GAGASAN LINTAS NEGARA BERTEMU DI DUMAI

 DUMAI — Ada malam ketika sebuah pantai hanya mempunyai suara ombak. Ada pula malam ketika ombak harus berbagi panggung dengan kompang, puisi, teater, musik, percakapan dan orang-orang yang datang dari negeri berbeda.

Pantai Tantriayana di Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Dumai, mengalami malam yang kedua. Melalui gagasan seniman Tantri Subekti, kawasan pesisir itu menjadi ruang pelaksanaan Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026, yang berlangsung pada rangkaian 12–13 September 2026.

Tema yang dibawa adalah “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.” Kegiatan mempertemukan seniman, budayawan, sastrawan, akademisi serta komunitas kreatif dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Mereka tidak berkumpul hanya untuk mengenang masa lalu. Mereka membicarakan masa depan.

Ini menjadi pembeda yang penting. Kebudayaan terlalu sering dibicarakan dalam bahasa kehilangan: takut tradisi hilang, takut anak muda tidak mengenal warisan, takut kesenian mati, takut bahasa ditinggalkan. Semua ketakutan itu mungkin beralasan, tetapi kebudayaan tidak akan diselamatkan hanya dengan rasa takut. Ia membutuhkan penciptaan, ruang, generasi baru dan keberanian memasuki zaman yang sedang berjalan.

“Saya tidak ingin kita terus berbicara budaya hanya dengan kalimat ‘jangan sampai hilang’. Budaya harus dibuat hidup. Harus ada ruang untuk tampil, ada ruang untuk belajar, ada ruang untuk anak muda menciptakan sesuatu yang baru tanpa kehilangan akarnya,” kata Tantri.

Rangkaian seminar menghadirkan dialog mengenai seni, kebudayaan, literasi serta hubungan kreativitas dengan perkembangan masyarakat. Salah satu sesi membahas keindahan seni dalam peradaban Melayu dan peradaban Islam, serta harmoni antara iman, budaya dan peradaban.

Sejumlah narasumber hadir, di antaranya Prof. Dr. H. Alaidin Koto, M.A.; Prof. Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D.; Dr. Bambang Kariyawan Ys, M.Pd.; serta H. Dheny Kurnia.

Dialog bukan sekadar pelengkap sebuah festival. Ia penting karena kebudayaan tidak hanya membutuhkan panggung, tetapi juga pikiran. Tarian dapat memukau mata, musik dapat menyentuh telinga, tetapi gagasan membantu manusia memahami mengapa sesuatu perlu dipertahankan, diubah atau diwariskan.

Forum berikutnya membahas “Kreativitas Seni dan Budaya: Ekosistem Imajinasi.” Kalimat itu menarik, karena kreativitas memang membutuhkan ekosistem. Sebuah pohon tidak tumbuh karena diperintahkan. Ia membutuhkan tanah, air, udara dan cahaya. Begitu pula kesenian.

Seniman membutuhkan ruang. Anak muda membutuhkan kesempatan. Karya membutuhkan penonton. Ide membutuhkan kebebasan. Kota membutuhkan kebijakan yang memberi tempat kepada semuanya.

Tanpa ekosistem, kita mungkin mempunyai banyak orang berbakat, tetapi mereka tumbuh sendiri-sendiri sampai akhirnya lelah.

Pada malam hari, percakapan berpindah dari forum ke panggung. Pantai Tantriayana berubah wajah. Arakan kompang membuka sebagian rangkaian budaya. Ada Tari Persembahan, Tepak Sirih, musikalitas puisi, pertunjukan teatrikal, penampilan seniman Malaysia Jibam Ramlee, serta hiburan lintas negara.

Tradisi dan ekspresi kontemporer tidak dipisahkan oleh pagar. Keduanya berdiri berdampingan.

Dalam rangkaian tersebut juga terdapat Deklarasi International Strait Art Exhibition, pelantikan komunitas seni serta penandatanganan kanvas dukungan terhadap INSA.

“Saya ingin dari pertemuan ini lahir jaringan, bukan hanya pertunjukan. Kalau seniman Dumai bisa berhubungan dengan seniman Malaysia, Singapura atau Brunei, lalu nanti saling mengundang dan membuat karya bersama, itu jauh lebih berarti daripada sekadar panggung yang ramai satu malam,” ujar Tantri.

Malam kemudian ditutup dengan api unggun hingga dini hari. Api unggun mempunyai cara sendiri membuat manusia duduk berdekatan. Tidak ada panggung tinggi dan jarak yang terlalu resmi. Hanya cahaya api, percakapan dan malam.

Barangkali manusia memang telah duduk mengelilingi api jauh sebelum mengenal gedung seminar. Dahulu cerita diwariskan di sana. Hari ini cara manusia berubah, tetapi kebutuhan untuk berkumpul dan bercerita tetap sama.

Keesokan paginya, rangkaian dilanjutkan dengan Salat Subuh, senam, pengenalan lingkungan, temu ramah dan penyerahan sertifikat.

Kegiatan akhirnya selesai. Tetapi pertanyaan sesungguhnya justru muncul sesudahnya.

Apa yang akan tinggal?

Apakah hanya gambar yang tersimpan di telepon? Apakah hanya sertifikat yang dimasukkan ke map? Ataukah pertemuan itu menghasilkan jaringan baru antara orang-orang yang sebelumnya terpisah negara?

Tantri berharap kebudayaan tidak dipandang sebagai warisan yang cukup dijaga di lemari sejarah. Warisan yang hanya dijaga suatu hari dapat berdebu. Kebudayaan harus dikembangkan, diciptakan kembali, diperdebatkan dan disajikan dengan bahasa zaman.

Generasi muda tidak hidup di dunia yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup bersama algoritma, video pendek, musik global dan informasi yang datang tanpa henti.

Kita dapat marah kepada perubahan itu. Tetapi kemarahan tidak akan menghentikannya.

Pilihan yang lebih masuk akal adalah masuk ke dalam ruang baru tersebut sambil membawa identitas sendiri.

Jika anak muda berada di media sosial, kebudayaan juga harus berani hadir di sana. Jika mereka menonton video, seniman harus belajar membuat dokumentasi yang dapat ditonton. Jika dunia berbicara dalam bahasa visual, kekayaan lokal juga harus diterjemahkan ke dalam visual yang kuat.

Bukan untuk tunduk kepada zaman, tetapi agar tidak hilang di dalamnya.

Dumai mempunyai keuntungan yang tidak dimiliki banyak kota. Ia menghadap jalur internasional. Secara geografis, dunia seberang terasa dekat. Malaysia, Singapura dan kawasan lain bukan nama yang jauh.

Laut telah menghubungkan masyarakat kawasan ini selama berabad-abad. Karena itu Pantai Tantriayana menjadi lokasi yang simbolis. Orang berdiri di tepian Indonesia sambil memandang laut yang sejak lama menghubungkan berbagai bangsa.

Dari lokasi itulah sebuah pesan disampaikan: batas negara tidak harus menjadi batas kebudayaan.

Puisi dapat menyeberang tanpa paspor. Musik tidak bertanya kewarganegaraan pendengarnya. Sebuah tarian dapat dimengerti bahkan oleh orang yang tidak memahami bahasa penarinya.

Seni mempunyai kemampuan membuat orang berbeda merasa mempunyai sesuatu yang sama.

Ketika kegiatan selesai dan panggung kembali kosong, ombak tentu masih datang seperti biasa. Pantai kembali kepada sunyinya. Tetapi sunyi setelah sebuah perjumpaan tidak pernah sepenuhnya sama.

Sebab ia telah menyimpan suara.

Kompang pernah berbunyi di sana.

Puisi pernah dibacakan.

Orang dari beberapa negara pernah duduk bersama.

Dan sebuah kota pernah mencoba mengatakan kepada dunia:

kami tidak hanya mempunyai pelabuhan. Kami mempunyai cerita.

KETIKA TRADISI BERTEMU LAYAR: DARI PANTAI TANTRI TRAYANA, GENERASI BARU DIAJAK MELAWAN LUPA

 

DUMAI — Zaman tidak pernah meminta izin sebelum berubah. Dulu cerita diwariskan dari mulut ke mulut, syair dibacakan di hadapan orang-orang, gerak tubuh dipelajari dengan melihat guru, dan ingatan hidup di kepala manusia, buku, panggung serta kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Hari ini dunia bergerak melalui layar. Satu sentuhan jari dapat membawa seseorang menyeberangi benua, dan sebuah video berdurasi beberapa detik dapat ditonton jutaan manusia.

Di balik kemudahan itu muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih sulit: ketika dunia semakin cepat, apakah kebudayaan akan ikut bergerak atau justru ditinggalkan?

Pertanyaan itulah yang terasa mengalir dalam Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantri Trayana Mundam, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai. Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian 11–12 September 2026 tersebut mengusung tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Bukan tema yang ringan. Sebab berbicara mengenai kebudayaan di zaman digital tidak lagi cukup dengan mengatakan bahwa tradisi harus dilestarikan. Yang jauh lebih sulit adalah menjawab bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hidup ketika generasi yang akan mewarisinya menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang digital.

“Menurut saya, kita tidak bisa hanya menyuruh anak muda mencintai budaya, sementara budaya itu sendiri tidak hadir di ruang tempat mereka hidup. Kalau generasi sekarang hidup di dunia digital, maka seni dan budaya kita juga harus berani masuk ke sana,” kata Tantri.

Di Pantai Tantri Trayana, jawaban itu tidak dicari melalui pidato saja. Kegiatan mempertemukan seni, sastra, teater, kreativitas dan literasi dalam ruang terbuka di kawasan pesisir. Perwakilan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand disebut hadir atau diundang dalam rangkaian pertemuan lintas negara tersebut.

Hari pertama dimulai dengan penyambutan tamu dan peserta, registrasi, pembagian tanda peserta serta pengaturan tenda bagi mereka yang mengikuti rangkaian kegiatan di kawasan pantai. Malam tidak langsung mengakhiri aktivitas. Gladi resik dan lokakarya berlangsung hingga larut. Pada titik itu, kegiatan mulai kehilangan batas antara “acara” dan “proses”, sebab sebuah pertunjukan tidak lahir ketika lampu dinyalakan. Ia lahir jauh sebelumnya: dalam latihan, kesalahan, pengulangan dan keberanian untuk terus mencoba.

Memasuki hari berikutnya, peserta kembali berkumpul sejak pagi. Salah satu agenda yang mendapat tempat penting adalah Workshop Seni Gerak atau Teater. Tiga tokoh hadir dengan sudut pandang berbeda. Budi Sumarno membahas kreativitas seni budaya dan bagaimana inovasi dapat dilakukan tanpa kehilangan akar identitas. Bedjo Sulaktono berbicara mengenai pertunjukan seni, dari gagasan hingga bagaimana konsep diwujudkan di lapangan. Sedangkan Umar Tadjuddin membimbing peserta dalam olah vokal serta karakteristik pertunjukan.

Peserta tidak hanya duduk mencatat. Mereka bergerak, berlatih, mencoba dan mengulang. Sebab seni memang sulit dipelajari hanya dengan mendengarkan. Tubuh harus ikut mengingat, suara harus ikut bekerja, dan keberanian harus dilatih.

Di sela kegiatan, hadir pula komunitas Rolling Thunder Vespa, menambah warna dalam pertemuan yang memang dirancang bukan sebagai seminar konvensional. Pantai berubah menjadi ruang tempat banyak dunia bertemu: seniman, sastrawan, komunitas, akademisi, pecinta kendaraan klasik, peserta lintas negara, masyarakat dan generasi muda.

Selepas waktu istirahat, ibadah dan makan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan gladi bersih pertunjukan teatrikal yang dipandu para instruktur. Di sinilah sebuah gagasan penting menemukan bentuknya. Kebudayaan tidak cukup dipelajari melalui definisi. Ia harus disentuh, dipraktikkan, dibicarakan, diperdebatkan, kemudian diciptakan kembali.

“Teknologi jangan kita takutkan. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya. Kalau puisi bisa direkam, tari bisa didokumentasikan, teater bisa disiarkan dan sejarah budaya bisa disimpan secara digital, justru teknologi membantu kita memperpanjang umur karya,” ujar Tantri.

Tantri melihat perkembangan teknologi bukan semata ancaman. Teknologi dapat menjadi lawan jika masyarakat memilih menyerah kepadanya, tetapi juga dapat menjadi kendaraan. Sebuah tarian dapat didokumentasikan, puisi dapat disebarkan ke ribuan orang, pertunjukan yang hanya disaksikan puluhan orang di pantai dapat hidup kembali di layar orang yang tidak pernah datang ke Dumai.

Persoalannya bukan apakah teknologi baik atau buruk. Persoalannya adalah siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Apabila ruang digital hanya dipenuhi budaya dari tempat lain, lama-kelamaan generasi muda dapat mengenal dunia tetapi kehilangan alamat rumahnya sendiri.

Mereka mungkin hafal lagu dari negeri yang tidak pernah dikunjungi, mengenal tokoh dunia dan mengikuti tren yang berganti setiap minggu, tetapi tidak mengetahui cerita yang hidup hanya beberapa kilometer dari rumahnya.

Ironinya bukan pada teknologi. Ironinya terjadi apabila sebuah generasi mempunyai akses kepada seluruh dunia, namun tidak sempat mengenal halaman rumah sendiri.

Karena itu, literasi digital dalam konteks kebudayaan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan memakai telepon pintar. Ia juga menyangkut kemampuan memilih, menyaring, mendokumentasikan, menciptakan dan menggunakan teknologi untuk membawa sesuatu yang bernilai ke masa depan.

Tradisi tidak harus menjadi museum. Ia dapat berdialog dengan zaman. Teater dapat masuk ke video pendek. Puisi dapat bertemu musik digital. Arsip budaya dapat dipindahkan ke ruang daring. Panggung dapat diperluas melalui media sosial. Yang tidak boleh hilang adalah jiwanya.

Pantai Tantri Trayana hari itu karena itu tidak hanya menjadi lokasi wisata. Ia menjadi laboratorium kecil tentang bagaimana sebuah warisan mencoba berdamai dengan perubahan zaman. Di satu sisi ada laut yang berusia jauh lebih tua daripada seluruh teknologi manusia. Di sisi lain ada telepon yang terus merekam. Di antara keduanya berdiri manusia, mencoba menjawab pertanyaan yang sama seperti generasi sebelumnya: apa yang harus kita wariskan?

Barangkali jawabannya bukan memilih masa lalu atau masa depan. Kita tidak perlu membakar teknologi untuk menjaga tradisi, dan tidak perlu mengubur tradisi untuk menjadi modern.

Keduanya dapat duduk di meja yang sama.

Syaratnya hanya satu: generasi yang hidup hari ini harus cukup peduli untuk membuat pertemuan itu terjadi.

Di tepi laut Dumai, pertemuan itu sedang dicoba.

Sebab budaya tidak mati ketika zaman berubah.

Budaya mati ketika orang yang mewarisinya berhenti merasa bahwa ia penting.

DARI PENDOPO, PINTU DUNIA DIKETUK: TANTRI SUBEKTI MENAUTKAN SENI, UMKM, DAN JEJARING MALAYSIA

 

DUMAI — Sebuah pelantikan kadang berakhir bersama tepuk tangan. Kursi dirapikan, bunga-bunga di meja mulai dipindahkan, spanduk diturunkan, lalu orang-orang pulang membawa foto dan ucapan selamat. Namun tidak semua pertemuan harus berakhir sebagai dokumentasi.

Di Pendopo Balai Sri Bunga Tanjung, Sabtu, 1 Agustus 2026, ada percakapan yang mencoba berjalan lebih jauh daripada seremoni.

Di tengah pelantikan dan pengukuhan Pengurus Daerah serta Pengurus Cabang Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Kota Dumai periode 2026–2031, seniman Dumai Tantri Subekti hadir dengan satu pandangan sederhana tetapi penting: seni, budaya, UMKM, pariwisata dan dunia usaha tidak semestinya hidup di pulau-pulau yang terpisah.

Masing-masing memang memiliki jalannya sendiri. Namun ketika jalan-jalan itu dipertemukan, sebuah kota dapat memperoleh kekuatan baru.

Dumai, sebagai kota pesisir yang berhadapan langsung dengan jalur perlintasan internasional, mempunyai posisi yang terlalu strategis untuk hanya menjadi tempat orang datang, bertransaksi, kemudian pergi. Kota ini mempunyai produk lokal, pelaku UMKM, komunitas kreatif, seniman, pekerja budaya, kuliner, wisata pesisir, serta hubungan yang sejak lama terbentuk dengan negeri-negeri di seberang Selat Malaka.

Yang dibutuhkan bukan sekadar potensi.

Potensi yang dibiarkan sendiri hanyalah daftar panjang dalam sebuah dokumen. Ia baru menjadi kekuatan ketika dipertemukan dengan jaringan, pasar dan keberanian untuk tampil.

Karena itu, kehadiran Presiden Pertubuhan Skuad Bakti Malaysia (PSBM), Dato Seri Ramle Bin Mat Daly, dalam momentum pengukuhan IPEMI menjadi sesuatu yang menarik untuk dibaca lebih jauh.

Pertemuan itu tidak berhenti pada jabat tangan dua organisasi. Ada ruang yang terbuka untuk membicarakan kemungkinan kerja sama Indonesia–Malaysia pada sejumlah bidang, mulai dari ekonomi, perdagangan, pendidikan, sosial hingga kebudayaan.

Komitmen tersebut kemudian diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding antara IPEMI Kota Dumai dan PSBM Malaysia.

Di mata awam, MoU mungkin hanya beberapa lembar kertas. Ada kop surat, tanda tangan, stempel, lalu kamera mengabadikannya. Namun sejarah kerja sama tidak pernah dibangun oleh tinta semata.

Tantri menilai kerja sama seperti ini tidak semestinya berhenti pada seremoni atau dokumen yang tersimpan di dalam map. Hubungan lintas negara harus mampu membuka ruang yang lebih nyata bagi UMKM, seniman dan pelaku ekonomi kreatif Dumai untuk memperluas jaringan serta pasar.

Nilai sebuah nota kesepahaman baru dapat dibuktikan ketika ia menjelma menjadi hubungan yang nyata.

Ketika pelaku usaha saling bertemu. Ketika produk lokal mulai diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas. Ketika pelaku UMKM memperoleh akses terhadap jaringan baru. Ketika karya kreatif tidak lagi berhenti di ruang lokal. Ketika hubungan dua kawasan yang dipisahkan laut justru menjadi semakin dekat karena perdagangan, kebudayaan dan perjumpaan antarmanusia.

Bagi Tantri, di sinilah seni dan dunia usaha seharusnya dapat saling menyentuh.

Seni bukan sekadar pertunjukan. Budaya bukan sekadar pakaian yang dikenakan saat acara resmi. Produk lokal pun bukan semata barang yang diberi label harga lalu diletakkan di meja pameran.

Di balik sebuah produk selalu ada cerita. Ada tangan yang membuatnya, ada pengetahuan yang diwariskan, ada selera suatu masyarakat, dan ada perjalanan panjang yang membuat sesuatu akhirnya memiliki bentuk dan nilai.

Karena itu, memperkenalkan produk lokal pada pasar internasional sesungguhnya juga memperkenalkan wajah sebuah daerah.

Tantri melihat kebudayaan dapat menjadi pintu masuk yang kuat. Orang mungkin datang karena bisnis, tetapi mereka akan mengingat sebuah daerah karena pengalaman, keramahan, makanan, seni, cerita, bahasa dan identitas yang ditemuinya.

Dumai mempunyai semua itu. Hanya saja, sebuah kota kadang terlalu lama memandang dirinya sendiri dari kaca yang sama.

Kita terbiasa melihat Dumai melalui pelabuhan, industri dan minyak. Itu penting. Tetapi kota ini tidak hanya dibangun dari baja dan beton.

Ada manusia yang bernyanyi. Ada orang yang menulis puisi. Ada perempuan-perempuan yang merintis usaha dari dapur rumahnya. Ada generasi muda yang bekerja dengan kamera dan layar telepon. Ada pengrajin yang membuat sesuatu dengan tangan. Ada masyarakat pesisir yang memiliki cerita panjang tentang laut.

Semua itu juga kekayaan.

Dan dalam era ketika ekonomi kreatif berkembang menjadi kekuatan baru, kekayaan tersebut tidak seharusnya hanya dikagumi. Ia harus dihubungkan dengan peluang.

Pertemuan IPEMI Kota Dumai dengan jaringan Malaysia menjadi salah satu ruang menuju ke sana. Kedekatan geografis Dumai dan Malaysia seharusnya dapat tumbuh menjadi kedekatan ekonomi dan kebudayaan.

Laut yang berada di antara dua negara tidak harus selalu dibaca sebagai batas. Sejak dahulu, laut justru menjadi jalan. Perahu melewatinya, barang diperdagangkan, bahasa saling bertemu, keluarga saling berkunjung, dan kesenian saling memengaruhi.

Menurut Tantri, Selat Malaka jangan semata-mata dipandang sebagai pemisah antarnegara. Laut itu sejak lama justru menjadi jalur yang mempertemukan masyarakat serumpun, dan hari ini hubungan tersebut dapat diperkuat kembali melalui seni, perdagangan, pariwisata serta jejaring ekonomi kreatif.

Hari ini, jalan itu dapat dibangun kembali dengan cara yang lebih modern: melalui jejaring usaha, pertukaran produk, kolaborasi ekonomi kreatif, pariwisata, pameran, pertunjukan seni, dan kerja sama antarkomunitas.

Tentu, sebuah pertemuan tidak otomatis mengubah keadaan. Tantri memahami bahwa kerja sama membutuhkan proses. Ada komunikasi yang harus dijaga, program yang perlu ditindaklanjuti, dan kepercayaan yang mesti dibangun perlahan.

Tetapi semua perjalanan selalu membutuhkan pintu pertama.

Dan pada hari itu, sebuah pintu telah diketuk.

Tidak dengan suara yang gaduh. Tidak pula dengan janji yang berlebihan. Hanya dengan sebuah keyakinan bahwa jika dunia usaha, UMKM, seni dan kebudayaan mau duduk di meja yang sama, selalu ada kemungkinan sebuah kota menemukan jalannya menuju ruang yang lebih luas.

Dari sebuah pendopo di Dumai, jalan itu mulai terbuka. Mungkin belum panjang. Mungkin belum sempurna. Namun sebuah perjalanan memang tidak pernah dimulai dari tujuan.

Ia selalu dimulai dari satu langkah.

Dan kadang-kadang, langkah pertama itu hanyalah sebuah pertemuan yang tidak dibiarkan selesai sebagai seremoni.

Load More That is All
🏠 Home