- Dari Jepang hingga Tanah Air, Tantri Subekti Rajut Persahabatan Lintas Negeri Melalui Puisi dan Seni Budaya - Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

Dari Jepang hingga Tanah Air, Tantri Subekti Rajut Persahabatan Lintas Negeri Melalui Puisi dan Seni Budaya

 Bersama PERRUAS, seniman asal Dumai ini membawa semangat kreativitas ke panggung internasional, sebelum melanjutkan perjalanan silaturahmi kesenian di Bogor, Bekasi, dan Jakarta.

JENDELA JIWA|  Oktober 2026 — Ada perjalanan yang tidak sekadar diukur dari jauh dekatnya suatu negeri. Ada langkah yang membawa lebih dari sekadar koper dan bekal perjalanan. Di dalamnya tersimpan gagasan, kecintaan terhadap seni, dan kerinduan untuk mempertemukan manusia melalui bahasa yang paling halus: kebudayaan.




Semangat itulah yang mewarnai perjalanan Tantri Subekti, pegiat seni, sastra, dan kebudayaan asal Kota Dumai, Riau, dalam mengikuti rangkaian kegiatan kesenian lintas daerah dan lintas negara.

Setelah mengikuti agenda seni dan sastra di Jepang pada 2–6 Oktober 2026, Tantri Subekti melanjutkan aktivitas kebudayaannya di Tanah Air melalui sejumlah kegiatan yang berlangsung di Bogor, Bekasi, dan Jakarta.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas persahabatan, mempertemukan gagasan kreatif, serta membangun hubungan antarseniman dari berbagai latar budaya.

PERRUAS Membuka Panggung Puisi di Negeri Sakura

Jepang menjadi salah satu persinggahan penting dalam perjalanan kesenian Tantri Subekti.

Melalui kegiatan Pentas Puisi di Jepang yang digagas oleh Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS), para pelaku seni memperoleh ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempererat hubungan persahabatan lintas negara.

Rangkaian perjalanan berlangsung pada 2–6 Oktober 2026, dengan agenda pentas puisi yang tercantum pada publikasi kegiatan di Osaka, Jepang, tanggal 6 Oktober 2026.

Dalam publikasi tersebut, Tantri Subekti tercantum sebagai salah seorang pembaca puisi dari Riau.

Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana puisi dapat menjadi jembatan kebudayaan yang melampaui perbedaan bahasa, bangsa, dan tradisi.

Sebab sebuah puisi tidak selalu membutuhkan panggung megah untuk menyentuh hati. Kadang cukup dengan suara yang tulus, pilihan kata yang jernih, dan pengalaman hidup yang dituangkan melalui bait-bait sederhana.

Di negeri orang, bahasa mungkin berbeda. Namun kerinduan, kasih sayang, harapan, dan kemanusiaan selalu menemukan cara untuk saling memahami.

Melalui kegiatan yang digagas PERRUAS tersebut, seni tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana mempertemukan kreativitas dan membangun persahabatan antarbangsa.



Pulang dari Jepang, Perjalanan Seni Berlanjut di Tanah Air

Usai rangkaian kegiatan di Jepang, Tantri Subekti tidak menghentikan aktivitas keseniannya.

Ia melanjutkan perjalanan dengan menghadiri empat agenda seni dan budaya yang tersebar di Bogor, Bekasi, dan Jakarta.

Rangkaian pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas silaturahmi dengan para seniman, penggerak kebudayaan, dan komunitas kreatif.

Setiap kota menghadirkan pengalaman yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama: mempertemukan manusia melalui karya.

Bagi seorang pegiat seni, perjalanan semacam ini tidak semata-mata menjadi ruang untuk menyaksikan pertunjukan atau menghadiri undangan.

Lebih dari itu, setiap perjumpaan membuka kesempatan untuk mendengar gagasan baru, memahami pengalaman seniman lain, dan membangun hubungan yang dapat diteruskan menjadi kerja sama kebudayaan.

Di Bekasi, Tantri Subekti Diundang Memberikan Sambutan

Salah satu agenda yang dihadiri Tantri Subekti berlangsung di Gedung Creative Center Bekasi, Minggu, 11 Oktober 2026.

Dalam kegiatan bertajuk "Merangkai Kreativitas dalam Karya", yang diselenggarakan Dewan Kesenian Daerah Bekasi melalui kolaborasi tiga komite, Tantri hadir sebagai undangan sekaligus mendapat kesempatan memberikan sambutan.

Perhelatan tersebut menghadirkan kegiatan ekonomi kreatif, seni rupa, dan musik.

Barito Hakim Putra membawakan materi ekonomi kreatif membatik, Ranggi Thole memperkenalkan seni melukis dengan kopi, sedangkan Cang Aib memberikan materi musik kontemporer.

Acara yang turut menghadirkan Adeliya Bunga Pramudia sebagai bintang tamu itu mendapat perhatian para peserta dan undangan, termasuk unsur pejabat daerah Bekasi.

Bagi Tantri Subekti, kehadirannya dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat membangun silaturahmi dan membuka kemungkinan kerja sama seni budaya antara Dumai dan Bekasi.

Perbedaan latar daerah justru dapat memperkaya gagasan dan memperluas cara pandang para seniman terhadap perkembangan dunia kesenian.



Dari Pesisir Melayu, Membawa Suara Kebudayaan Nusantara

Perjalanan Tantri Subekti dari Dumai menuju Jepang, kemudian berlanjut ke sejumlah kota di Indonesia, menggambarkan pentingnya kehadiran pelaku seni daerah dalam berbagai ruang kebudayaan.

Dumai sebagai kota pesisir yang memiliki akar tradisi Melayu menyimpan kekayaan budaya yang dapat terus diperkenalkan melalui perjumpaan dan pertukaran karya.

Sementara itu, forum seni di berbagai daerah serta kegiatan internasional membuka ruang bagi seniman untuk saling mengenal, memperluas pengetahuan, dan membangun jejaring persahabatan.

Kegiatan-kegiatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa menjaga kebudayaan tidak cukup hanya dengan mengenang warisan masa lalu.

Kebudayaan perlu dihidupkan, dipelajari, diperkenalkan, dan diberi ruang untuk terus berkembang.

Di tengah perubahan zaman, para pelaku seni memiliki peran penting dalam merawat ingatan, menjaga identitas, dan meneruskan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya.

Puisi Menjelajah Negeri, Persahabatan Melampaui Batas

Pentas puisi di Jepang dan berbagai pertemuan seni di Tanah Air menjadi rangkaian pengalaman yang memperkaya perjalanan kesenian Tantri Subekti.

Dari Osaka hingga Bekasi, dari forum sastra hingga kegiatan kreativitas, tersimpan satu pesan tentang pentingnya menjaga hubungan antarseniman dan memperluas ruang apresiasi terhadap kebudayaan.

Sebab seni tidak mengenal batas administratif. Sebuah karya dapat lahir dari daerah kecil, tetapi menyentuh hati manusia di negeri yang jauh.

Puisi boleh selesai dibacakan, pertunjukan boleh berakhir, dan panggung pada akhirnya akan kembali sunyi. Namun persahabatan yang tumbuh dari sebuah perjumpaan dapat hidup jauh lebih lama.

Dari pesisir Dumai, Tantri Subekti terus membawa semangat itu dalam perjalanan keseniannya.

Karena bagi mereka yang mencintai seni, setiap negeri adalah ruang belajar, setiap pertemuan adalah jembatan persaudaraan, dan setiap karya merupakan jejak kehidupan yang layak diwariskan.

Tantri Subekti
Pegiat Seni, Sastra, dan Kebudayaan Nusantara asal Kota Dumai, Riau.


by iwang

0 Comments

🏠 Home