- TIGA HARI DI TEPI SELAT: PUISI, SENI, API UNGGUN DAN JANJI YANG TAK BOLEH PADAM SETELAH PANGGUNG DIBONGKAR - Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

TIGA HARI DI TEPI SELAT: PUISI, SENI, API UNGGUN DAN JANJI YANG TAK BOLEH PADAM SETELAH PANGGUNG DIBONGKAR

 

DUMAI — Tiga hari bukan waktu yang panjang. 11, 12 dan 13 September 2026. Hanya tiga tanggal di kalender. Namun sebuah pertemuan dapat mempunyai umur jauh lebih panjang daripada waktu pelaksanaannya apabila orang-orang yang hadir pulang membawa hubungan baru.

Di Pantai Tantrayana, Kecamatan Medang Kampai, selama tiga hari itu berlangsung rangkaian seni dan budaya yang mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Perhelatan tersebut digagas Tantri Subekti, S.Pd. bersama tim dengan tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Rangkaian dimulai Jumat, 11 September, ketika peserta berdatangan sejak siang. Tidak langsung ada kemegahan. Orang datang, berkenalan, menata tempat, mencari posisi, menyapa teman lama dan bertemu wajah baru.

Seperti banyak peristiwa kebudayaan, sesuatu yang kemudian terlihat besar selalu bermula dari pekerjaan kecil.

Pada sore harinya digelar Workshop Seni Gerak bersama Budi Sumarno, Bedjo Sulaktono dan Umar Tadjuddin. Gerak, suara dan ekspresi menjadi medium pembelajaran. Malam pertama mulai diisi puisi, musik dan tarian.

Belum menjadi puncak, tetapi benih suasana telah ditanam.

Sebab kebudayaan tidak lahir pada malam puncak. Ia lahir dalam proses, dalam latihan ketika penonton belum datang, dalam seniman yang mengulang gerakan, dalam panitia yang berjalan mondar-mandir dan dalam peserta yang masih mencari keberanian untuk tampil.

“Orang biasanya hanya melihat malam pertunjukan, padahal sebuah karya lahir jauh sebelum lampu panggung dinyalakan. Ada latihan, ada kesalahan, ada orang yang bekerja di belakang. Saya justru menghargai proses itu, karena dari sanalah kebersamaan dibangun,” kata Tantri.

Sabtu, 12 September, hari dimulai dengan ibadah, gerak tubuh dan sarapan bersama. Sesudahnya kegiatan memasuki ruang pemikiran.

Dialog pertama membicarakan hubungan keindahan seni dengan peradaban dan nilai-nilai Islam. Hadir Prof. Dr. H. Alaidin Koto, Prof. Dr. Husnu Abadi, Dr. Bambang Kariyawan Ys dan H. Dheny Kurnia.

Seni membutuhkan tubuh, tetapi juga membutuhkan pikiran. Budaya membutuhkan tradisi, tetapi juga membutuhkan kritik. Warisan membutuhkan penghormatan, tetapi bila tidak pernah dibicarakan kembali, penghormatan dapat berubah menjadi pembekuan.

Sesi berikutnya membawa pembicaraan menyeberangi laut melalui tema ekosistem imajinasi. Seniman dari Dumai, daerah lain serta negara tetangga berbagi pengalaman, tantangan dan harapan.

Sebuah gagasan muncul dengan sendirinya: kreativitas tidak mengenal garis perbatasan.

Seorang seniman di Dumai dapat mempunyai kegelisahan yang sama dengan seniman di Malaysia. Seorang penulis di Singapura dapat memahami persoalan yang dihadapi pekerja budaya di Indonesia. Mereka hidup di bawah administrasi negara berbeda, tetapi karya sering mempertemukan pertanyaan yang sama.

Malam Sabtu menjadi titik puncak. Hadir unsur Pemerintah Kota Dumai, lembaga adat, Pemerintah Provinsi Riau, legislatif, instansi setempat serta utusan negara sahabat.

Ketika malam turun, bunyi kompang mengambil alih udara. Tepak Sirih dan berbagai pertunjukan budaya hadir sebagai simbol penghormatan. Lagu kebangsaan dinyanyikan, kemudian dilakukan penandatanganan kanvas sebagai dukungan terhadap Strait Art Exhibition, sebuah kerja sama yang direncanakan berlanjut pada Desember 2026.

Di sela perayaan seni, terdapat pula penyerahan bantuan sosial kepada Aku Cinta Dumai (ACD).

“Kalau kita sudah membuka hubungan dengan seniman dari negara lain, jangan berhenti setelah mereka pulang. Saya ingin ada pertemuan berikutnya, ada pameran berikutnya, ada karya bersama. Api unggun boleh padam malam ini, tetapi hubungan yang sudah kita nyalakan jangan ikut padam,” ujar Tantri.

Malam berlanjut dengan kolaborasi seniman lintas daerah dan negara sebelum api unggun dinyalakan.

Simbol memang tidak akan mengubah dunia sendirian. Tetapi manusia membutuhkan simbol untuk mengingat. Api mengingatkan tentang kehangatan. Lingkaran manusia di sekitarnya mengingatkan tentang kebersamaan. Dan malam yang gelap membuat cahaya kecil terlihat jauh lebih berarti.

Minggu, 13 September, acara memasuki bagian akhir. Sertifikat diserahkan, salam perpisahan diucapkan, dan orang-orang mulai bersiap meninggalkan lokasi.

Secara administratif, kegiatan selesai. Namun tantangan sesungguhnya justru dimulai.

Sebab tantangan terbesar sebuah festival bukan membuatnya ramai. Yang jauh lebih sulit adalah membuat orang ingin kembali.

Jika peserta dari negara lain datang sekali, berfoto lalu hubungan terputus, pertemuan belum mencapai seluruh potensinya. Tetapi apabila setelah pulang mereka terus berkomunikasi, merancang kegiatan berikutnya, bertukar karya atau saling mengundang, maka tiga hari tersebut berubah menjadi fondasi.

Pesisir Dumai secara geografis memang berada di tepi. Namun “tepi” tidak harus berarti “pinggir”. Dalam sejarah manusia, pesisir justru sering menjadi tempat pertama perubahan datang. Kapal berlabuh di sana. Barang baru tiba. Bahasa bertemu. Orang asing menjadi kenalan.

Pantai Tantrayana selama tiga hari itu memilih membuka diri kepada puisi, seni, tamu, perbedaan dan kemungkinan.

Ketika semuanya selesai, pasir kembali sepi. Kursi dipindahkan. Panggung dibongkar. Orang-orang pulang.

Namun satu hal tidak boleh ikut dibongkar:

janji untuk bertemu kembali.

0 Comments

🏠 Home