DUMAI — Sebuah kota dapat mempunyai letak strategis tetapi tetap berada di pinggir percakapan. Ia dapat mempunyai pelabuhan internasional, jalur laut, industri, bandara, jalan dan hotel. Tetapi untuk benar-benar dikenal, sebuah kota membutuhkan sesuatu yang tidak dapat dibangun hanya dengan semen: karakter.
Pada September 2026, Tantri Subekti mencoba mendorong Dumai keluar dari posisi sebagai penonton. Gagasannya diwujudkan melalui Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantrayana, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai.
Dalam badan pemberitaan kegiatan tersebut disebutkan kehadiran peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Mereka dipertemukan melalui tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”
Tetapi tema hanyalah kalimat bila tidak diberikan tubuh. Karena itu, rangkaian acara dibuat bergerak sejak pagi. Peserta memulai aktivitas dengan Salat Subuh, senam, pengenalan lingkungan, sarapan hingga Rolling Thunder Vespa. Suasana kemudian bergeser menuju ruang gagasan.
Pada Dialog Seni dan Budaya Sesi I, pembicaraan diarahkan pada tema “Keindahan Seni dalam Peradaban Melayu dan Peradaban Islam: Harmoni Iman, Budaya dan Peradaban.” Forum menghadirkan Prof. Dr. H. Alaidin Koto, M.A.; Prof. Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Ph.D.; Dr. Bambang Kariyawan Ys, M.Pd.; dan H. Dheny Kurnia. Dialog dimoderatori Dr. Dian Oka, M.Sy.
Diskusi lalu bergerak menuju sesi antarnegara dengan tema “Kreativitas Seni dan Budaya: Ekosistem Imajinasi”, yang melibatkan pelaku seni dan kebudayaan dari Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan Jefry Al Malay sebagai moderator.
Pemilihan kata ekosistem imajinasi terasa tepat. Imajinasi sering dianggap barang mewah, sesuatu yang hanya dimiliki seniman. Padahal hampir semua perubahan besar dalam kehidupan manusia dimulai dari kemampuan membayangkan sesuatu yang belum ada.
“Kalau Dumai ingin punya ruang budaya yang lebih besar, kita harus berani membayangkannya lebih dulu. Jangan merasa karena kita bukan Jakarta atau Kuala Lumpur maka kita tidak bisa membuat pertemuan internasional. Kita punya laut, punya budaya dan punya seniman. Itu modal kita,” kata Tantri.
Sebelum gedung berdiri, seseorang membayangkannya. Sebelum kapal berlayar, seseorang membayangkan bahwa laut dapat diseberangi. Sebelum sebuah kota menjadi pusat kebudayaan, seseorang harus terlebih dahulu berani membayangkannya.
Barangkali itulah yang sedang dicoba Tantri.
Dumai selama ini terlalu kuat diasosiasikan dengan industri. Tidak ada yang salah dengan itu. Industri memberi pekerjaan, pelabuhan menggerakkan ekonomi. Namun kota yang sehat tidak hidup dengan ekonomi saja.
Ia membutuhkan ruang tempat manusia dapat menciptakan sesuatu yang tidak selalu dapat dihitung dengan tonase dan rupiah.
Malam hari menjadi bukti bagaimana gagasan itu diterjemahkan. Pantai Tantrayana berubah menjadi panggung. Arakan kompang, Tari Persembahan dan Tepak Sirih membawa unsur tradisi ke hadapan peserta. Kemudian tampil musikalitas puisi, teater dan berbagai hiburan lintas negara.
Seniman Malaysia Jibam Ramlee ikut mengambil bagian. Ada pula deklarasi International Strait Art Exhibition, pelantikan komunitas seni serta penandatanganan kanvas dukungan terhadap INSA.
Acara berlangsung hingga api unggun dinyalakan. Di bawah langit pesisir, orang-orang dari latar yang berbeda berkumpul.
Mungkin inilah bentuk pertemuan internasional yang jarang dibayangkan ketika orang mendengar kata diplomasi. Tidak ada meja negosiasi resmi dan pernyataan bilateral yang panjang. Tetapi manusia bertemu, dan dari pertemuan manusia hubungan sering kali tumbuh lebih jujur.
“Saya percaya seni itu punya bahasa sendiri. Kita mungkin berbeda negara dan berbeda cara bicara, tapi ketika musik dimainkan, puisi dibacakan atau pertunjukan dimulai, orang bisa saling merasakan. Di situlah seni menjadi jembatan,” ujar Tantri.
Tantri melihat kebudayaan sebagai salah satu bahasa paling lunak sekaligus paling kuat. Ia tidak memaksa, tetapi dapat menembus batas. Sebuah lagu tidak memerlukan visa. Puisi tidak perlu melewati pemeriksaan imigrasi. Gerak teater dapat dipahami bahkan tanpa terjemahan.
Rangkaian kegiatan malam ditutup hingga dini hari. Tetapi makna pertemuan seharusnya tidak ikut padam bersama api unggun.
Bila kegiatan lintas negara hanya menghasilkan keramaian, ia akan cepat dilupakan. Yang dibutuhkan setelahnya adalah jejaring, kolaborasi, pertukaran karya, kunjungan, pameran, pertemanan yang terus terhubung, serta ruang bagi generasi berikutnya untuk masuk.
Dumai mempunyai posisi alamiah untuk memainkan peran tersebut. Kota ini berada di wilayah pesisir yang sejak dahulu menjadi jalur pertemuan. Laut di hadapannya bukan tembok. Ia adalah jalan tua yang sudah digunakan manusia jauh sebelum jalan raya dibangun.
Hari ini jalan tua itu dapat diberi fungsi baru. Bukan hanya untuk membawa komoditas, tetapi juga gagasan, karya, seniman dan cerita dari satu negeri ke negeri lain.
Dan mungkin kelak, ketika orang mendengar nama Dumai, yang terbayang bukan hanya kapal dan industri.
Mereka juga mengingat sebuah pantai.
Sebuah panggung.
Sebuah pertemuan.
Sebuah kota yang akhirnya berani berhenti menjadi penonton.
Sebab kota memperoleh tempat dalam sejarah ketika ia menciptakan sesuatu yang layak diingat.
0 Comments