DUMAI — Ada satu kekeliruan yang sering dilakukan ketika berbicara tentang anak muda dan kebudayaan. Kita meminta mereka mencintai tradisi, tetapi tradisi jarang hadir di tempat mereka hidup. Kita meminta mereka mengenal karya-karya lama, tetapi dunia digital mereka dipenuhi karya dari tempat lain.
Kita meminta mereka menjaga identitas. Tetapi ketika membuka telepon, yang mereka temukan hampir seluruhnya adalah tren global. Lalu ketika suatu hari mereka lebih mengenal budaya asing daripada budayanya sendiri, orang dewasa bertanya: mengapa anak-anak sekarang berubah?
Pertanyaan itu mungkin perlu dibalik.
Apakah kebudayaan telah cukup berani mendatangi mereka?
Semangat inilah yang menjadi salah satu denyut Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantri Trayana Mundam, kawasan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Dumai.
Pertemuan lintas negara tersebut mengangkat tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.” Judulnya langsung menempatkan dua dunia dalam satu kalimat: tradisi dan teknologi.
Bagi sebagian orang, keduanya dianggap berlawanan. Tradisi diasosiasikan dengan masa lalu, teknologi dianggap masa depan. Padahal pembagian itu terlalu sederhana.
Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan arah adalah manusia.
“Kita sering menyalahkan anak muda karena terlalu dekat dengan telepon, tapi saya pikir kita juga harus bertanya: sudahkah budaya kita hadir di telepon mereka? Kalau tidak ada konten budaya, tidak ada dokumentasi, tidak ada karya yang menarik, bagaimana mereka mau menemukannya?” kata Tantri.
Sebuah telepon dapat digunakan berjam-jam untuk menonton sesuatu yang segera dilupakan. Tetapi telepon yang sama dapat merekam wawancara dengan seorang tetua yang menyimpan pengetahuan puluhan tahun.
Media sosial dapat membuat orang kecanduan sensasi. Tetapi media yang sama dapat membawa satu pertunjukan lokal disaksikan orang dari negara lain.
Internet dapat membuat generasi muda tenggelam dalam arus global. Tetapi ia juga dapat menjadi perpustakaan terbesar yang pernah dimiliki manusia.
Pilihan itulah yang menjadi medan sesungguhnya.
Dalam rangkaian kegiatan di Pantai Tantri Trayana, seni, sastra, teater, diskusi dan berbagai aktivitas kreatif dipertemukan dengan pembicaraan mengenai literasi serta perkembangan zaman. Peserta dari berbagai daerah dan negara berinteraksi bukan hanya sebagai penonton.
Ada workshop.
Ada latihan.
Ada pertunjukan.
Ada dialog.
Ada proses saling melihat bagaimana budaya dapat disajikan tanpa harus membekukannya.
Sebab budaya yang hidup berbeda dengan benda museum. Ia berubah, beradaptasi, menyerap pengaruh, kemudian melahirkan bentuk baru.
Yang perlu dijaga bukan agar kebudayaan tidak pernah berubah. Hal itu hampir mustahil.
Yang lebih penting adalah memastikan perubahan tidak memutus hubungan dengan akar.
Sebuah pohon tumbuh ke atas justru karena akarnya masuk semakin dalam. Jika akar dipotong, pertumbuhan yang terlihat tinggi hanya menunggu waktu untuk roboh.
Begitu pula generasi digital.
Tidak ada alasan meminta mereka kembali hidup seperti generasi lima puluh tahun lalu. Mereka mempunyai zamannya sendiri.
Tugas kebudayaan bukan menyeret mereka kembali. Tugas kebudayaan adalah membawa nilai lama ke dalam bahasa baru tanpa kehilangan maknanya.
Puisi dapat menjadi video. Cerita rakyat dapat menjadi animasi. Dokumentasi tradisi dapat disimpan dalam arsip digital. Pertunjukan dapat disiarkan langsung. Musik dapat direkam dengan kualitas tinggi. Naskah lama dapat didigitalisasi. Profil seniman dapat ditemukan melalui mesin pencari. Bahkan pantun dapat masuk ke platform yang digunakan anak muda.
Mengapa tidak?
“Saya tidak ingin teknologi menggantikan panggung. Saya ingin teknologi memperpanjang panggung. Pertunjukan mungkin hanya berlangsung satu malam, tetapi kalau didokumentasikan dengan baik, orang bisa menontonnya bertahun-tahun kemudian. Itu yang harus kita manfaatkan,” ujar Tantri.
Masalahnya bukan medianya. Masalah muncul ketika kita begitu takut terhadap perubahan sampai memilih tidak hadir.
Ruang kosong tidak akan tetap kosong.
Jika kebudayaan lokal tidak mengisinya, sesuatu yang lain akan datang.
Algoritma tidak mempunyai kewajiban menjaga identitas suatu masyarakat. Ia hanya menampilkan sesuatu yang dianggap mampu mempertahankan perhatian pengguna.
Karena itu, pelestarian budaya di era digital membutuhkan lebih dari nostalgia. Ia membutuhkan strategi, dokumentasi yang baik, kreator, penulis, fotografer, videografer, desainer, pengelola arsip, guru, seniman, komunitas dan generasi muda yang tidak hanya menjadi konsumen layar, tetapi juga produsen pengetahuan.
Tantri melihat ruang digital sebagai wilayah yang perlu dimasuki. Bukan dengan ketakutan, tetapi dengan karya.
Jika satu pertunjukan hanya disaksikan seratus orang di pantai, dokumentasinya dapat menjangkau ribuan. Jika satu seniman hanya dikenal di lingkungannya, profil digital dapat mempertemukannya dengan jaringan dari luar daerah. Jika satu cerita hanya diketahui seorang tetua, rekaman dapat membuatnya tetap terdengar ketika sang pencerita tidak lagi ada.
Teknologi tidak menjanjikan keabadian. Tidak ada media yang benar-benar abadi. Tetapi ia memberikan kemungkinan penyimpanan dan penyebaran yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya.
Dan kemungkinan itu terlalu berharga untuk disia-siakan.
Pertemuan di Pantai Tantri Trayana juga menunjukkan bahwa literasi tidak semata-mata berhubungan dengan membaca buku. Literasi hari ini jauh lebih luas: bagaimana membaca informasi, membedakan pengetahuan dengan kebisingan, menggunakan teknologi secara etis, menciptakan konten, memahami jejak digital, dan dalam konteks kebudayaan—bagaimana memindahkan nilai ke ruang digital tanpa menjadikannya dangkal.
Inilah tantangan besar.
Media sosial menyukai kecepatan. Kebudayaan sering membutuhkan kedalaman. Media sosial menyukai sesuatu yang pendek. Sejarah membutuhkan konteks. Algoritma menyukai hal yang sedang ramai. Tradisi tidak selalu populer.
Maka pekerjaan orang-orang budaya menjadi lebih berat.
Mereka harus cukup memahami akar untuk tidak mengkhianatinya, tetapi juga cukup memahami zaman agar pesan mereka tidak berbicara kepada ruang kosong.
Pantai Tantri Trayana menjadi ruang simbolis bagi gagasan tersebut. Di hadapan peserta terbentang laut. Laut adalah teknologi paling tua yang menghubungkan masyarakat kawasan ini.
Berabad-abad lalu, kapal membawa bahasa, cerita dan kebudayaan dari satu pantai ke pantai lainnya. Hari ini jaringan digital melakukan sesuatu yang mirip dengan kecepatan yang nyaris tidak dapat dibayangkan nenek moyang.
Perbedaannya hanya satu.
Kapal tetap membutuhkan pelaut untuk menentukan arah.
Internet pun demikian.
Tanpa manusia yang tahu apa yang hendak dibawa, kecepatan tidak mempunyai arti.
Karena itu, pembicaraan mengenai kebudayaan di era digital pada akhirnya bukan semata-mata pembicaraan mengenai teknologi.
Ia adalah pembicaraan tentang manusia.
Tentang pilihan.
Tentang apa yang kita anggap cukup berharga untuk disimpan.
Tentang cerita apa yang ingin kita wariskan.
Dan tentang apakah generasi sesudah kita kelak masih dapat menemukan jejak kita.
Tantri tidak ingin budaya hanya menjadi kenangan. Ia harus menjadi percakapan. Tidak hanya menjadi sesuatu yang dilihat dalam foto lama, tetapi sesuatu yang masih dibuat hari ini. Tidak hanya dikenakan saat seremoni, tetapi hidup dalam kreativitas. Tidak hanya disebut dalam pidato, tetapi hadir di ruang tempat generasi muda menjalani hidupnya.
Termasuk ruang digital.
Sebab kita tidak dapat meminta anak muda mencari sesuatu yang tidak pernah kita letakkan di hadapan mereka.
Dan bila suatu hari tradisi tidak ditemukan lagi di layar generasi berikutnya, jangan terlalu cepat menyalahkan teknologi.
Barangkali masalahnya lebih sederhana:
kita terlambat mengunggah ingatan kita sendiri.
0 Comments