- PANGGUNG ITU MENGHADAP LAUT: DARI PESISIR DUMAI, EMPAT NEGARA MENEMUKAN BAHASA YANG SAMA - Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

PANGGUNG ITU MENGHADAP LAUT: DARI PESISIR DUMAI, EMPAT NEGARA MENEMUKAN BAHASA YANG SAMA

 DUMAI — Batas negara digambar manusia di atas peta. Laut tidak pernah membacanya. Ombak dari satu pantai bergerak menuju pantai lain tanpa bertanya siapa pemilik wilayah. Angin melintas dari satu negeri ke negeri berikutnya tanpa paspor.

Barangkali karena itulah kawasan pesisir menjadi tempat yang tepat untuk berbicara tentang hubungan antarbangsa.

Pada September 2026, Pantai Tantriayana di kawasan Teluk Makmur, Medang Kampai, Dumai, tidak sekadar menjadi latar. Pantai itu menjadi panggung.

Dalam pertemuan budaya internasional yang digagas Tantri Subekti, peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam bertemu dalam rangkaian seminar, dialog dan pertunjukan. Tema besar yang diangkat adalah “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Namun yang terlihat di lapangan jauh lebih berwarna daripada sebuah tema di spanduk. Seniman bertemu akademisi. Budayawan duduk bersama komunitas kreatif. Sastrawan berbicara dengan pelaku seni dari negeri lain. Tradisi bertemu teknologi. Panggung bertemu pantai. Berbagai generasi berada dalam ruang yang sama.

“Saya memilih pantai bukan hanya karena tempatnya indah. Kita ini masyarakat pesisir. Laut adalah bagian dari sejarah kita. Dari laut inilah orang datang, budaya bertemu dan hubungan dengan negeri-negeri seberang dibangun sejak lama,” kata Tantri.

Bagi Tantri, pemilihan pantai sebagai tempat kegiatan bukan sekadar persoalan pemandangan. Pesisir mempunyai ingatan. Selat Malaka telah menjadi jalur pertemuan manusia selama berabad-abad. Melaluinya datang pedagang, pelaut, ulama, pekerja, seniman, keluarga, cerita, bahasa, musik dan berbagai pengaruh yang kemudian tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kawasan.

Karena itu, ketika peserta lintas negara kembali bertemu di tepi laut Dumai, ada hubungan simbolik dengan sejarah yang jauh lebih panjang daripada acara tersebut.

Perbedaannya hanya alat yang digunakan. Dahulu orang membawa cerita dengan kapal. Hari ini sebuah cerita dapat berpindah negeri melalui internet dalam hitungan detik. Dahulu pertunjukan hanya hidup sejauh suara dapat terdengar. Hari ini satu rekaman dapat ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Zaman berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk bertemu tidak hilang.

Rangkaian kegiatan menghadirkan dialog seni dan kebudayaan, pembicaraan mengenai peradaban, kreativitas serta peran seni di tengah perkembangan zaman. Malam harinya, panggung pesisir menghadirkan arakan kompang, Tari Persembahan, Tepak Sirih, musikalitas puisi, teatrikal hingga penampilan lintas negara.

Jibam Ramlee dari Malaysia menjadi salah satu seniman yang tampil dalam rangkaian tersebut.

Tradisi tidak disimpan dalam lemari. Ia dibawa keluar, dibunyikan, digerakkan, dipertontonkan, dan yang lebih penting: dipertemukan dengan orang lain.

Sebab kebudayaan yang tidak pernah bertemu kebudayaan lain dapat merasa dirinya paling besar atau justru merasa paling kecil. Perjumpaan membuat manusia mempunyai ukuran yang lebih sehat. Kita melihat persamaan, menemukan perbedaan, kemudian menyadari bahwa keduanya tidak selalu harus dipertentangkan.

Pertemuan itu juga diwarnai deklarasi dan dukungan terhadap International Strait Art Exhibition. Gagasan tersebut membuka kemungkinan terbentuknya jejaring seni di sepanjang kawasan selat.

“Saya ingin seniman-seniman di kawasan selat saling mengenal. Jangan sampai kita secara geografis sangat dekat, tetapi secara seni justru saling tidak tahu. Kalau jaringan ini hidup, kita bisa bertukar karya, bertukar panggung dan belajar satu sama lain,” ujar Tantri.

Jika terus dikembangkan, jejaring semacam itu berpotensi memberi ruang bagi seniman yang selama ini bekerja jauh dari pusat-pusat kebudayaan besar.

Dumai tidak berada di Jakarta. Ia tidak berada di Kuala Lumpur. Tidak pula Singapura. Tetapi geografis bukan alasan sebuah kota harus berada di pinggir kebudayaan.

Justru kota-kota pesisir mempunyai keunggulan sendiri. Mereka terbiasa menerima kedatangan, melihat orang pergi, dan hidup dengan perbedaan. Laut mengajarkan keterbukaan dengan caranya sendiri.

Dalam konteks itu, Pantai Tantriayana menjadi lebih dari lokasi acara. Ia menjadi pernyataan.

Bahwa panggung kebudayaan tidak selalu harus dibangun di pusat kota. Tidak selalu di ballroom hotel. Tidak selalu di gedung tertutup pendingin udara.

Kadang panggung cukup diletakkan menghadap laut.

Biarkan angin masuk.

Biarkan suara ombak menyela.

Biarkan orang duduk tanpa terlalu banyak jarak.

Kesan seperti itulah yang membuat sebuah kegiatan mempunyai karakter.

Dunia hari ini penuh acara. Setiap hari ada seminar, setiap minggu ada festival, setiap bulan ada perayaan.

Yang langka bukan acara.

Yang langka adalah ingatan.

Apakah orang masih mengingatnya setelah satu tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun?

Jawabannya sangat bergantung pada apakah kegiatan itu mampu membentuk sesuatu yang khas.

Tantri mencoba membangun kekhasan tersebut dengan mempertemukan pesisir, seni, sastra, komunitas dan lintas negara.

Tentu satu perhelatan belum cukup. Tidak ada pusat kebudayaan lahir dalam satu akhir pekan. Tradisi membutuhkan pengulangan, jejaring membutuhkan pemeliharaan, dan kepercayaan membutuhkan waktu.

Namun setiap perjalanan panjang memerlukan satu titik pada peta tempat seseorang berkata:

kita mulai dari sini.

Pantai Tantriayana dapat menjadi titik itu.

Tempat di mana orang-orang yang berbeda kewarganegaraan menemukan bahasa yang lebih tua daripada politik: seni.

Bahasa yang tidak selalu memerlukan terjemahan.

Ketika kompang berbunyi, tubuh mengerti ritmenya. Ketika puisi dibacakan, orang mungkin tidak menangkap setiap kata tetapi dapat merasakan nadanya. Ketika pertunjukan selesai, tepuk tangan datang dari berbagai tangan tanpa perlu dibedakan asal negaranya.

Barangkali di situlah seni sedang mengajari manusia sesuatu.

Bahwa dunia boleh mempunyai banyak batas.

Tetapi tidak semua hal harus berhenti di batas itu.

Dan malam itu, di sebuah pantai di Dumai, panggung menghadap laut seolah hendak berkata:

yang di seberang sana bukan selalu orang asing.

0 Comments

🏠 Home