- SILATURAHMI TAK BERHENTI DI MEJA MAKAN: PERTEMUAN TANTRI SUBEKTI DAN HNI MEMBUKA PINTU KOLABORASI - Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

SILATURAHMI TAK BERHENTI DI MEJA MAKAN: PERTEMUAN TANTRI SUBEKTI DAN HNI MEMBUKA PINTU KOLABORASI

 

DUMAI — Pertemuan yang baik tidak selalu menghasilkan keputusan pada hari yang sama. Kadang ia hanya meninggalkan percakapan, sebuah jabat tangan, satu nomor telepon, beberapa gagasan dan kemungkinan yang belum mempunyai nama.

Tetapi percakapan yang bertemu dengan orang tepat sering kali mempunyai umur lebih panjang daripada acara yang melahirkannya.

Sabtu, 15 Agustus 2026, Tantri Subekti menghadiri perayaan Milad ke-14 HNI Islamiyah di kediaman Direktur HNI Herbal sekaligus seniman budaya Dumai, H. Suryanto, di Jalan Meranti Laut, Kelurahan STDI, Kecamatan Dumai Barat.

Suasana hari itu merupakan pertemuan keluarga besar HNI yang diisi dengan silaturahmi, pengenalan perjalanan organisasi serta berbagai produk yang mereka kembangkan.

Empat belas tahun tentu bukan usia yang datang dalam semalam. Di belakang angka itu ada perjalanan, orang-orang yang datang lalu bertahan, proses memperkenalkan produk, usaha membangun kepercayaan masyarakat dan sistem yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Menurut informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, HNI Islamiyah terus melakukan pengembangan produk, termasuk memperkenalkan produk-produk baru kepada masyarakat setiap tahunnya. Dalam perayaan itu, para anggota juga memperoleh penjelasan mengenai produk serta sistem pelayanan HNI.

H. Suryanto menyampaikan pandangannya mengenai pengembangan bisnis jaringan yang didukung teknologi dan pelayanan secara daring maupun luring. Dunia memang telah berubah. Dulu jaringan bisnis banyak dibangun melalui pertemuan langsung. Orang berkeliling membawa katalog dan produk dikenalkan dari pintu ke pintu. Hari ini layar telepon menjadi etalase, pesan dapat sampai dalam hitungan detik dan pertemuan dapat berlangsung secara virtual.

Namun ada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi: kepercayaan antarmanusia.

“Teknologi memang membuat kita lebih cepat berkomunikasi, tetapi menurut saya hubungan antarmanusia tetap nomor satu. Orang mau bekerja sama karena ada kepercayaan. Dan kepercayaan itu banyak lahir dari silaturahmi, dari duduk bersama, dari saling mengenal,” kata Tantri.

Karena itu, pertemuan semacam Milad tetap mempunyai arti. Orang-orang datang, berbicara, menatap wajah satu sama lain, makan bersama dan dari pertemuan seperti itulah rasa percaya sering tumbuh.

Kemeriahan semakin terasa ketika sejumlah undian bagi anggota digelar. Dua kesempatan menunaikan ibadah umrah serta hadiah sepeda motor menjadi bagian dari rangkaian apresiasi yang disiapkan.

Acara juga disiarkan secara langsung sehingga dapat diikuti anggota HNI dari berbagai daerah di Indonesia. Teknologi memungkinkan ruang perayaan menjadi lebih luas daripada halaman rumah tempat acara berlangsung.

Namun sebuah pertemuan tidak semestinya hanya dilihat dari kemeriahan hadiah. Hadiah akan dibawa pulang, acara akan selesai dan kursi akan dikembalikan. Tetapi hubungan yang lahir dari sebuah pertemuan dapat tumbuh jauh lebih lama.

Di sinilah muncul kemungkinan bertemunya dua dunia. Dunia usaha mempunyai jaringan, produk, sistem dan kemampuan distribusi. Sementara dunia seni dan kebudayaan mempunyai cerita, kreativitas, daya tarik emosional serta kemampuan membuat sesuatu yang biasa menjadi memiliki makna.

Ketika keduanya saling mendengar, selalu ada kemungkinan lahirnya sesuatu yang baru. Seni dapat membantu sebuah produk menemukan cerita. Kebudayaan dapat memberi identitas. Dunia usaha dapat membantu karya memperoleh ruang dan dukungan.

“Saya melihat dunia usaha dan dunia seni sebenarnya saling membutuhkan. Pengusaha punya jaringan dan kemampuan distribusi, sementara seniman punya kreativitas dan cerita. Kalau dua kekuatan ini dipertemukan, kita bisa membuat kegiatan yang lebih besar dan manfaatnya juga bisa dirasakan masyarakat,” ujar Tantri.

Hubungan seperti itu tidak harus selalu berbentuk proyek besar. Kadang kolaborasi dimulai dari hal kecil: sebuah kegiatan bersama, dukungan terhadap acara seni, promosi produk lokal, pertemuan komunitas, pameran atau sekadar saling membuka jaringan.

Kehadiran Tantri dalam Milad ke-14 HNI Islamiyah karena itu menjadi ruang komunikasi mengenai kemungkinan kerja sama pada masa mendatang.

Tidak setiap percakapan perlu buru-buru diberi nama. Tidak setiap pertemuan harus berakhir dengan penandatanganan dokumen. Tidak semua ide harus langsung diumumkan sebagai program.

Kadang sebuah gagasan membutuhkan waktu untuk menemukan bentuknya.

Seperti benih. Ia tidak perlu ditarik agar cepat tumbuh. Yang dibutuhkan adalah tanah yang baik, air dan kesempatan.

Banyak karya besar justru lahir dari proses panjang. Sebuah puisi mungkin bermula dari satu kalimat yang disimpan berhari-hari. Sebuah lukisan dapat berawal dari satu warna yang terus mengganggu pikiran. Sebuah pertunjukan besar mungkin bermula dari obrolan kecil di warung kopi.

Begitu pula kerja sama. Ia dapat bermula dari pertemuan yang pada awalnya tampak biasa saja.

Milad tersebut kemudian ditutup dengan jamuan makan siang. Orang-orang duduk semeja, berbicara, tertawa, mengenang perjalanan dan membicarakan hari-hari mendatang.

Mungkin bagi sebagian orang makan siang hanyalah penutup acara. Namun dalam kebudayaan kita, meja makan mempunyai makna yang jauh lebih dalam. Di sanalah jarak sering menghilang, jabatan menjadi tidak terlalu penting, orang berbagi makanan dan percakapan mengalir tanpa podium.

Banyak gagasan justru lahir dalam suasana seperti itu. Bukan ketika mikrofon dinyalakan, melainkan ketika orang merasa cukup nyaman untuk berbicara apa adanya.

Pertemuan Tantri Subekti dengan keluarga besar HNI pada hari itu mungkin belum menghasilkan sebuah kolaborasi yang dapat diumumkan dengan huruf besar. Namun pintunya telah terbuka.

Dunia usaha membutuhkan kreativitas. Dunia seni membutuhkan jaringan. Masyarakat membutuhkan keduanya.

Jika suatu hari pertemuan itu tumbuh menjadi kolaborasi, orang mungkin akan melihat kembali Milad ke-14 tersebut sebagai salah satu titik kecil dalam perjalanan yang lebih panjang.

Sebab sesuatu yang besar tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang sebagai obrolan ringan, sebagai jabat tangan, sebagai pertemuan, atau bahkan sebagai percakapan sederhana di meja makan.

Dan dari sanalah sebuah kemungkinan mulai tumbuh.

0 Comments

🏠 Home