- KETIKA SENI TAK LAGI CUKUP DIPAJANG: TANTRI SUBEKTI MEMBAWA GAGASAN KE MEJA BISNIS ANTARNEGARA - Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

KETIKA SENI TAK LAGI CUKUP DIPAJANG: TANTRI SUBEKTI MEMBAWA GAGASAN KE MEJA BISNIS ANTARNEGARA

 

DUMAI — Seni akan kehilangan sebagian kekuatannya bila hanya hidup di dinding pameran. Produk lokal pun dapat kehilangan masa depannya bila terus berputar dari satu bazar ke bazar berikutnya tanpa pernah menemukan pasar yang lebih luas. Di antara dua dunia itulah Tantri Subekti mencoba membuat jembatan.

Pelantikan Pengurus Daerah dan Pengurus Cabang IPEMI Kota Dumai periode 2026–2031 di Pendopo Balai Sri Bunga Tanjung pada 1 Agustus 2026 menjadi salah satu ruang pertemuan tersebut. Acara itu tidak hanya menghadirkan pengurus organisasi dan pelaku usaha perempuan. Dalam pemberitaan yang menjadi dasar tulisan ini, hadir pula lebih dari 80 pelaku bisnis asal Malaysia dalam rombongan yang dipimpin Dato Seri Ramle Bin Mat Daly.

Lebih dari delapan puluh pebisnis dari negeri seberang berada dalam satu ruang bersama pelaku usaha Dumai. Angka itu bukan sekadar jumlah tamu. Di dalamnya ada kemungkinan, jaringan, pasar, percakapan dan peluang baru bagi dua wilayah yang secara geografis sangat dekat.

Dumai dan Malaysia hanya dipisahkan laut. Namun dalam dunia usaha, jarak yang dekat tidak otomatis melahirkan hubungan yang dekat. Diperlukan orang-orang yang membuka percakapan, organisasi yang mempertemukan jaringan, serta kepercayaan yang terus dibangun.

Tantri bersama jejaring International Strait Art Exhibition atau INSA melihat peluang tersebut tidak sebatas pada urusan jual-beli. Ada pariwisata, seni, kebudayaan dan ekonomi kreatif yang dapat tumbuh apabila semuanya dipertemukan dalam satu ekosistem.

“Saya melihat kedatangan para pelaku usaha dari Malaysia ini sebagai pintu yang besar. Jangan hanya datang, bertemu, berfoto lalu selesai. Kita harus mempertemukan mereka dengan UMKM kita, dengan seniman kita, dengan produk kreatif masyarakat Dumai. Kalau jaringan sudah terbuka, kita harus berani masuk,” kata Tantri.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat tempat. Mereka mencari pengalaman, makanan, cerita, pertunjukan, kerajinan dan sesuatu yang tidak mereka temukan di kota lain. Di sinilah kebudayaan bertemu dengan ekonomi.

Bukan untuk menjadikan seni semata-mata barang dagangan, tetapi untuk memastikan bahwa kreativitas masyarakat juga dapat memberi kehidupan kepada orang-orang yang menciptakannya. Sebuah produk akan lebih mudah diingat ketika ia membawa cerita, karakter dan identitas daerah.

Dalam rangkaian komunikasi pada momentum tersebut, dibicarakan pula agenda dialog dan kegiatan seni pada September 2026 yang melibatkan peserta lintas negara. Sejumlah akademisi, seniman dan pengamat budaya disebut akan mengambil bagian.

Agenda lain yang lebih besar diarahkan menuju Pameran Seni dan Budaya se-ASEAN pada 18–20 Desember 2026. Ruang itu diharapkan mempertemukan dunia seni dengan para pelaku bisnis dari dalam maupun luar negeri.

Gagasan seperti ini penting karena seni dan bisnis selama ini kerap dianggap dua dunia yang berseberangan. Yang satu berbicara rasa, yang lain berbicara angka. Yang satu dianggap idealis, yang lain dianggap pragmatis.

Padahal kehidupan tidak pernah sesederhana itu.

Seniman juga hidup di dalam ekonomi. Pelaku usaha membutuhkan kreativitas. Sebuah kota membutuhkan keduanya. Di belakang satu produk ada manusia. Di belakang manusia ada keluarga. Di belakang keluarga ada kebiasaan, tradisi dan pengetahuan. Di belakang sebuah kota ada cerita yang menentukan bagaimana orang lain melihatnya.

Apakah Dumai hanya tempat kapal berlabuh? Apakah Dumai hanya kota industri? Ataukah kota ini juga dapat dikenal sebagai tempat seni tumbuh, produk kreatif berkembang dan pertemuan antarnegara menemukan panggungnya?

Kemitraan IPEMI Kota Dumai dengan PSBM Malaysia yang dituangkan melalui MoU menjadi salah satu pintu formal menuju kemungkinan tersebut. Namun sebuah nota kesepahaman tidak boleh berhenti di dalam map.

“Bagi saya, MoU itu bukan akhir. Justru setelah tanda tangan itulah pekerjaan dimulai. Kalau tidak ada pertemuan lanjutan, tidak ada produk yang dipromosikan, tidak ada pameran dan tidak ada jaringan yang bergerak, kertas itu akhirnya hanya menjadi arsip. Saya ingin hubungan ini benar-benar hidup,” ujar Tantri.

Tindak lanjut menjadi kunci. Pertemuan lanjutan, promosi produk, pertukaran jaringan, pameran, kegiatan budaya, kerja sama pariwisata dan pembukaan pasar akan menentukan apakah pertemuan tersebut hanya dikenang sebagai sebuah acara atau menjadi awal sesuatu yang lebih besar.

Hubungan lintas negara tidak selalu harus dimulai dengan proyek raksasa. Kadang ia dimulai dari seorang perempuan yang membawa produk hasil usahanya, seorang seniman yang membawa lukisan, atau seorang pengrajin yang membawa karya.

Kemudian seseorang dari negeri lain melihatnya, menyukainya, membawanya pulang dan menceritakannya kepada orang lain. Begitulah jaringan bekerja. Perlahan, tetapi ketika terus tumbuh ia dapat mengubah banyak hal.

Selat Malaka telah menyaksikan manusia bergerak selama ratusan tahun. Kapal datang dan pergi. Barang berpindah. Budaya bertemu. Hari ini lintasan yang sama dapat memperoleh makna baru, bukan hanya sebagai jalan bagi kapal besar dan perdagangan industri, tetapi juga jalan bagi karya-karya kecil untuk menemukan dunia yang lebih luas.

Karena itu, seni tidak lagi cukup dipajang. UMKM tidak cukup hanya diberi stan. Kerja sama tidak cukup disimpan sebagai foto.

Semuanya harus bergerak. Semuanya harus mencari jalan.

Dan mungkin di sanalah pekerjaan sesungguhnya dimulai: bukan ketika pena menyentuh kertas MoU, melainkan ketika gagasan mempunyai keberanian untuk menyeberangi laut.

0 Comments

🏠 Home