DUMAI — Di tengah pembicaraan besar mengenai seni, kebudayaan dan hubungan antarnegara, ada cerita yang ukurannya jauh lebih kecil. Ia tidak berdiri di podium utama, tidak membawa gelar panjang dan tidak datang bersama delegasi resmi.
Cerita itu berada di tangan seorang pelaku UMKM.
Namanya Noylula Collection.
Usaha lokal Kota Dumai itu ikut meramaikan perhelatan seni dan budaya lintas negara di kawasan Pantai Tantrayana, Teluk Makmur, Dumai, September 2026. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, seniman, budayawan serta tamu dari dalam dan luar negeri berdatangan ke kawasan pesisir.
Di antara panggung, seniman dan tamu luar negeri, muncul pertanyaan yang sangat membumi: apa manfaat sebuah perhelatan internasional bagi orang kecil yang hidup dan berusaha di kota ini?
Salah satu jawabannya terlihat melalui kehadiran Noylula Collection.
Usaha milik Nur Hasanah tersebut bergerak dalam produksi berbagai barang kebutuhan rumah tangga dan fesyen, antara lain pakaian, seprai, sarung guling, sarung bantal, tas sandang serta aksesori untuk pesta pernikahan. Produk dibuat menyesuaikan ukuran dan permintaan pembeli.
Sekilas barang-barang itu terlihat sederhana. Tidak ada mesin industri raksasa, cerobong atau kontainer besar. Tetapi ekonomi sebuah kota tidak hanya dibangun dari perusahaan besar.
Ada ribuan kehidupan yang bertumpu pada usaha kecil: mesin jahit, meja kerja, kamar yang berubah menjadi ruang produksi, pesanan yang masuk melalui telepon dan keluarga yang menunggu hasil penjualan.
“Saya selalu bilang, kalau kita mengundang tamu dari luar negeri jangan hanya tunjukkan panggung kita. Tunjukkan juga produk masyarakat kita. Ada penjahit, pengrajin, kuliner, fesyen dan banyak karya UMKM Dumai yang layak dilihat. Acara internasional harus ikut membuka pintu untuk mereka,” kata Tantri.
Nur Hasanah menyampaikan harapan agar kegiatan lintas negara dapat membuka peluang bagi produk UMKM Kota Dumai untuk diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
Harapan itu terdengar sederhana. Tetapi bagi usaha kecil, pasar baru dapat berarti banyak hal: pesanan bertambah, produksi meningkat, orang lain dapat dipekerjakan, pendapatan keluarga bertambah dan usaha memperoleh keberanian untuk tumbuh.
Di sinilah seni dan ekonomi menemukan titik temu.
Selama ini masyarakat sering memandang acara kebudayaan hanya sebagai pengeluaran. Panggung membutuhkan biaya, dekorasi membutuhkan biaya, tamu membutuhkan pelayanan dan pertunjukan membutuhkan fasilitas.
Namun cara pandang itu terlalu sempit apabila kegiatan mampu menciptakan perputaran ekonomi. Tamu yang datang perlu makan, transportasi, tempat menginap, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan lain. Semakin lama mereka tinggal, semakin besar kemungkinan uang berputar di tingkat lokal.
Karena itu, seni dan budaya dapat menjadi bagian dari ekonomi kreatif jika dirancang dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar menempelkan stan UMKM di sudut acara, tetapi benar-benar mempertemukan produk dengan pasar.
Usaha kecil sering mempunyai produk tetapi tidak mempunyai jaringan. Mempunyai keterampilan tetapi lemah dalam kemasan. Mempunyai semangat tetapi kesulitan modal. Mempunyai pelanggan lokal tetapi tidak tahu bagaimana menembus pasar yang lebih jauh.
Di sinilah pemerintah dan ekosistem ekonomi kreatif dibutuhkan: pelatihan, legalitas, desain, kemasan, fotografi produk, pemasaran digital, standar mutu, pameran, jaringan perdagangan hingga pendampingan ekspor.
Tidak semua pelaku UMKM membutuhkan bantuan uang.
Kadang yang mereka butuhkan adalah pintu.
“Menurut saya, masalah banyak UMKM bukan karena produknya tidak bagus. Kadang mereka hanya belum punya pintu untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Kalau kegiatan seni bisa mempertemukan mereka dengan pembeli, jaringan dan tamu dari luar, berarti panggung itu memberi manfaat nyata,” ujar Tantri.
Bayangkan jika seorang tamu dari luar membawa pulang satu produk. Ia memotretnya, memperlihatkannya kepada keluarga, lalu seseorang bertanya siapa yang membuat. Nomor kontak diberikan. Pesanan pertama masuk.
Tidak ada yang spektakuler.
Tetapi banyak usaha besar memang dimulai dari transaksi yang sangat kecil.
Ekonomi tidak selalu tumbuh melalui pidato besar. Kadang ia tumbuh dari seseorang yang membeli satu tas, satu kain atau satu produk, lalu kembali membeli.
Bagi Tantri, pertemuan antara seni dan UMKM mempunyai logikanya sendiri. Budaya tidak hanya hidup dalam tarian. Ia hadir dalam pakaian, kerajinan, kuliner, motif, desain, cara manusia menghias rumah dan barang-barang yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu ekonomi kreatif tidak dapat dipisahkan secara kaku dari kebudayaan. Seniman membutuhkan ekonomi agar dapat terus berkarya. UMKM membutuhkan kreativitas agar produknya mempunyai nilai tambah. Pariwisata membutuhkan keduanya agar wisatawan mempunyai sesuatu untuk dilihat, dirasakan dan dibawa pulang.
Ketika tiga unsur itu dipertemukan—seni, pariwisata dan UMKM—sebuah kota mulai mempunyai ekosistem yang lebih lengkap.
Kita tidak perlu berpura-pura bahwa satu kegiatan langsung membuat UMKM menembus pasar internasional. Itu akan menjadi klaim berlebihan.
Tetapi pintu yang terbuka tetap lebih baik daripada tembok yang tidak pernah diketuk.
Noylula Collection datang membawa produknya.
Membawa harapan.
Dan mungkin juga membawa satu pesan sederhana kepada setiap penyelenggara kegiatan besar di kota ini:
ketika tamu internasional datang, jangan hanya tunjukkan panggung kita.
Tunjukkan juga apa yang dibuat tangan masyarakat kita.
0 Comments