- KETIKA TRADISI BERTEMU LAYAR: DARI PANTAI TANTRI TRAYANA, GENERASI BARU DIAJAK MELAWAN LUPA - Jendela Jiwa -"Tantri Subekti"

KETIKA TRADISI BERTEMU LAYAR: DARI PANTAI TANTRI TRAYANA, GENERASI BARU DIAJAK MELAWAN LUPA

 

DUMAI — Zaman tidak pernah meminta izin sebelum berubah. Dulu cerita diwariskan dari mulut ke mulut, syair dibacakan di hadapan orang-orang, gerak tubuh dipelajari dengan melihat guru, dan ingatan hidup di kepala manusia, buku, panggung serta kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Hari ini dunia bergerak melalui layar. Satu sentuhan jari dapat membawa seseorang menyeberangi benua, dan sebuah video berdurasi beberapa detik dapat ditonton jutaan manusia.

Di balik kemudahan itu muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih sulit: ketika dunia semakin cepat, apakah kebudayaan akan ikut bergerak atau justru ditinggalkan?

Pertanyaan itulah yang terasa mengalir dalam Seminar Internasional Budaya dan Literasi Riau 2026 di Pantai Tantri Trayana Mundam, Jalan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai. Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian 11–12 September 2026 tersebut mengusung tema “Memajukan Budaya Melayu di Era Digital.”

Bukan tema yang ringan. Sebab berbicara mengenai kebudayaan di zaman digital tidak lagi cukup dengan mengatakan bahwa tradisi harus dilestarikan. Yang jauh lebih sulit adalah menjawab bagaimana sebuah tradisi dapat tetap hidup ketika generasi yang akan mewarisinya menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang digital.

“Menurut saya, kita tidak bisa hanya menyuruh anak muda mencintai budaya, sementara budaya itu sendiri tidak hadir di ruang tempat mereka hidup. Kalau generasi sekarang hidup di dunia digital, maka seni dan budaya kita juga harus berani masuk ke sana,” kata Tantri.

Di Pantai Tantri Trayana, jawaban itu tidak dicari melalui pidato saja. Kegiatan mempertemukan seni, sastra, teater, kreativitas dan literasi dalam ruang terbuka di kawasan pesisir. Perwakilan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand disebut hadir atau diundang dalam rangkaian pertemuan lintas negara tersebut.

Hari pertama dimulai dengan penyambutan tamu dan peserta, registrasi, pembagian tanda peserta serta pengaturan tenda bagi mereka yang mengikuti rangkaian kegiatan di kawasan pantai. Malam tidak langsung mengakhiri aktivitas. Gladi resik dan lokakarya berlangsung hingga larut. Pada titik itu, kegiatan mulai kehilangan batas antara “acara” dan “proses”, sebab sebuah pertunjukan tidak lahir ketika lampu dinyalakan. Ia lahir jauh sebelumnya: dalam latihan, kesalahan, pengulangan dan keberanian untuk terus mencoba.

Memasuki hari berikutnya, peserta kembali berkumpul sejak pagi. Salah satu agenda yang mendapat tempat penting adalah Workshop Seni Gerak atau Teater. Tiga tokoh hadir dengan sudut pandang berbeda. Budi Sumarno membahas kreativitas seni budaya dan bagaimana inovasi dapat dilakukan tanpa kehilangan akar identitas. Bedjo Sulaktono berbicara mengenai pertunjukan seni, dari gagasan hingga bagaimana konsep diwujudkan di lapangan. Sedangkan Umar Tadjuddin membimbing peserta dalam olah vokal serta karakteristik pertunjukan.

Peserta tidak hanya duduk mencatat. Mereka bergerak, berlatih, mencoba dan mengulang. Sebab seni memang sulit dipelajari hanya dengan mendengarkan. Tubuh harus ikut mengingat, suara harus ikut bekerja, dan keberanian harus dilatih.

Di sela kegiatan, hadir pula komunitas Rolling Thunder Vespa, menambah warna dalam pertemuan yang memang dirancang bukan sebagai seminar konvensional. Pantai berubah menjadi ruang tempat banyak dunia bertemu: seniman, sastrawan, komunitas, akademisi, pecinta kendaraan klasik, peserta lintas negara, masyarakat dan generasi muda.

Selepas waktu istirahat, ibadah dan makan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan gladi bersih pertunjukan teatrikal yang dipandu para instruktur. Di sinilah sebuah gagasan penting menemukan bentuknya. Kebudayaan tidak cukup dipelajari melalui definisi. Ia harus disentuh, dipraktikkan, dibicarakan, diperdebatkan, kemudian diciptakan kembali.

“Teknologi jangan kita takutkan. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya. Kalau puisi bisa direkam, tari bisa didokumentasikan, teater bisa disiarkan dan sejarah budaya bisa disimpan secara digital, justru teknologi membantu kita memperpanjang umur karya,” ujar Tantri.

Tantri melihat perkembangan teknologi bukan semata ancaman. Teknologi dapat menjadi lawan jika masyarakat memilih menyerah kepadanya, tetapi juga dapat menjadi kendaraan. Sebuah tarian dapat didokumentasikan, puisi dapat disebarkan ke ribuan orang, pertunjukan yang hanya disaksikan puluhan orang di pantai dapat hidup kembali di layar orang yang tidak pernah datang ke Dumai.

Persoalannya bukan apakah teknologi baik atau buruk. Persoalannya adalah siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Apabila ruang digital hanya dipenuhi budaya dari tempat lain, lama-kelamaan generasi muda dapat mengenal dunia tetapi kehilangan alamat rumahnya sendiri.

Mereka mungkin hafal lagu dari negeri yang tidak pernah dikunjungi, mengenal tokoh dunia dan mengikuti tren yang berganti setiap minggu, tetapi tidak mengetahui cerita yang hidup hanya beberapa kilometer dari rumahnya.

Ironinya bukan pada teknologi. Ironinya terjadi apabila sebuah generasi mempunyai akses kepada seluruh dunia, namun tidak sempat mengenal halaman rumah sendiri.

Karena itu, literasi digital dalam konteks kebudayaan tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan memakai telepon pintar. Ia juga menyangkut kemampuan memilih, menyaring, mendokumentasikan, menciptakan dan menggunakan teknologi untuk membawa sesuatu yang bernilai ke masa depan.

Tradisi tidak harus menjadi museum. Ia dapat berdialog dengan zaman. Teater dapat masuk ke video pendek. Puisi dapat bertemu musik digital. Arsip budaya dapat dipindahkan ke ruang daring. Panggung dapat diperluas melalui media sosial. Yang tidak boleh hilang adalah jiwanya.

Pantai Tantri Trayana hari itu karena itu tidak hanya menjadi lokasi wisata. Ia menjadi laboratorium kecil tentang bagaimana sebuah warisan mencoba berdamai dengan perubahan zaman. Di satu sisi ada laut yang berusia jauh lebih tua daripada seluruh teknologi manusia. Di sisi lain ada telepon yang terus merekam. Di antara keduanya berdiri manusia, mencoba menjawab pertanyaan yang sama seperti generasi sebelumnya: apa yang harus kita wariskan?

Barangkali jawabannya bukan memilih masa lalu atau masa depan. Kita tidak perlu membakar teknologi untuk menjaga tradisi, dan tidak perlu mengubur tradisi untuk menjadi modern.

Keduanya dapat duduk di meja yang sama.

Syaratnya hanya satu: generasi yang hidup hari ini harus cukup peduli untuk membuat pertemuan itu terjadi.

Di tepi laut Dumai, pertemuan itu sedang dicoba.

Sebab budaya tidak mati ketika zaman berubah.

Budaya mati ketika orang yang mewarisinya berhenti merasa bahwa ia penting.

0 Comments

🏠 Home